Rabu, 15 Juli 2009

Realita, Kontrol, Pilihan, dan Kunci

Oleh: Hingdranata Nikolay

Apa yang membedakan orang bahagia dan tidak bahagia?

Apakah JUMLAH materi? Apakah TERCAPAINYA keinginan?

Coba lihat sekeliling, ada orang dengan jumlah materi berlimpah yang bahagia, ada juga yang tidak bahagia.

Ada orang dengan jumlah materi yang minim yang bahagia, ada juga yang tidak.

Ada orang yang keinginannya tercapai tapi tidak bahagia, ada juga yang bahagia.

Ada yang keinginannya tidak tercapai, tapi bahagia, ada juga yang tidak.

KUNCI-nya?

KONTROL terhadap REALITA.

Setiap orang punya REALITA berbeda-beda, dan persepsi dalam tingkatan mana orang tersebut bisa MENGONTROL REALITA-nya akan menentukan seberapa bahagia dia.

Jika dia merasa bisa mengontrol REALITA-nya, dia bahagia.

Dan sebaliknya, seberapapun pencapaiannya, seberapa banyak penghasilannya, apabila dia tidak merasa punya KONTROL terhadap REALITA-nya, dia tidak berbahagia.

Tidak ada KUNCI yang sama untuk mempunyai perasaan bisa MENGONTROL REALITA (sense of control), karena REALITA setiap orang juga berbeda-beda.

Bahkan untuk mencari KUNCI tersebut pun merupakan PILIHAN. Ada yang memilih untuk mencari, ada yang memilih untuk tidak mencari.

So, bagaimana REALITA Anda?

Apakah Anda merasa memegang KONTROL terhadap REALITA Anda?

Apakah Anda MEMILIH untuk mencari KUNCI untuk bisa memegang KONTROL terhadap REALITA Anda?


by http://www.inspirasiindonesia.com

How True is the Truth? Whose Truth?

Oleh: Hingdranata Nikolay

Sering mendengar ada yang berkata “Faktanya begitu, kok!” atau “Memang ini yang sebenarnya!” atau “I know I’m right!”, atau “That’s the truth!” dan sejenisnya?

Hal menarik mengenai ‘truth’ adalah bahwa ia sangat kontekstual! Tergantung dari SUDUT PANDANG SIAPA, PERASAAN SIAPA, atau bahkan APA YANG PENTING.

Otak tidak membedakan yang mana yang REAL yang mana yang tidak. Keduanya diproses sesuai PILIHAN kita.

Secara otomatis, otak akan MEMILIH apa yang ingin dilihat, ingin didengar, dan ingin dirasakan oleh kita.

Apabila Anda ingin bertemu seseorang yang galak, rasa gugup atau cemas Anda muncul jauh sebelum bertemu dengan orang itu.

Apakah sudah REAL terjadinya? Belum. Tapi otak Anda membuatnya REAL, sehingga Anda gugup, cemas, jantung Anda berdetak luar biasa, dll., padahal orangnya belum REAL di depan Anda.

Output pikiran kita adalah hasil dari beberapa proses di otak, yang di NLP dikenal sebagai Deletion, Distortion, dan Generalization. Lalu juga berdasarkan belief dan values kita, memory, preferensi pribadi kita, pengetahuan kita, dll. Jadi outputnya sangat tergantung dari proses di otak kita, dan kemungkinan variasinya luar biasa mengingat probabilitas perbedaan values, memory, pengetahuan, dll. dari setiap orang di muka bumi. Coba pikirkan, apa yang menurut Anda BENAR 10 tahun lalu, sekarang mungkin hanya bisa Anda tertawakan. Pada saat pengetahuan kita bertambah, pengalaman kita bervariasi, belief kita berpindah-pindah, memory kita merekam kejadian demi kejadian, konsep kita mengenai yang BENAR pun bergeser. Lalu seberapa SALAH kita di masa lalu? Akankah apa yang kita pikirkan sebagai BENAR saat ini juga menjadi BENAR di masa mendatang? Ingat pula, apa yang biasanya dianggap sebagai FACTS di masa lalu, sekarang hanyalah dianggap sebagai BELIEFS di masa lalu, dan yang di masa lalu hanya BELIEFS, sekarang menjadi FACTS. Dan kalau melihat ke belakang, Anda juga bisa meninjau kembali, is it RIGHT to always want to be RIGHT?

Coba pikirkan kembali kapan terakhir kali Anda berpendapat bahwa pasangan seseorang sahabat Anda jelek, tapi sahabat Anda berpendapat bahwa orangnya sangat oke.

Baju Anda yang Anda anggap bagus ditertawai orang lain. Cita-cita Anda diremehkan orang lain.

Atau kapan terakhir kali Anda berargumentasi dengan seseorang dan terlibat debat kusir, dan tidak ada hasil karena sama-sama ngotot?

Banyakkah hal dimana Anda tidak sepaham dengan orang di sekitar Anda? Tanyakan ini kepada seseorang yang merasa bahwa ‘the world is against him or her’ dan Anda akan tahu betapa frustrasinya merasa diri BENAR dan tidak dilihat orang lain sebagai BENAR.

Lalu WHOSE TRUTH IS THE TRUTH? HOW TRUE IS YOUR TRUTH? How do we know we are absolutely true?

You see, di dunia ini ada yang namanya ‘Collective Unconsciousness’, yakni sesuatu yang dipercayai secara bawah sadar oleh banyak orang, entah BENAR atau SALAH. Ini adalah hal-hal seperti agama, hukum, etika, perbuatan baik, dll. Dan orang-orang yang berbagi kepercayaan bawah sadar yang sama ini cenderung berkumpul dan berkomunitas, serta saling mendukung dan membenarkan, seperti halnya di Inspirasi Indonesia ini dan berbagai komunitas lain.

Ini yang sering dipakai sebagai tolok ukur oleh banyak orang, ketika mereka mengatakan seseorang atau sesuatu itu BENAR atau SALAH. Dan ingat, ketika kita menjatuhkan vonis BENAR atau SALAH, itu sudah men-generalisasi lho….

Bagus, apabila kita bisa mempunyai sebuah generalisasi sebagai tolok ukur atau penyedia PILIHAN pribadi dan BERGUNA untuk kita, tapi bisa menjadi masalah saat terjadi PEMAKSAAN apa yang kita rasa BENAR ini ke orang lain yang punya generalisasi berbeda berdasarkan proses di otak dia sendiri. Dan lebih berbahaya apabila generalisasi ini malah membatasi PILIHAN kita untuk maju.

Di NLP disarankan untuk tidak hanya mempergunjingkan apa yang BENAR dan SALAH, tapi apakah yang BENAR atau SALAH itu BERMANFAAT bagi yang mempergunjingkan atau malah tidak.

Dan sangat dianjurkan untuk menghormati konsep BENAR orang lain, sebelum kita menyampaikan konsep BENAR kita. Satu alasan orang lain tidak menghormati konsep BENAR kita adalah karena kita juga tidak menghormati konsep BENAR mereka. Ingat kembali, menerima tidak sama dengan menyetujui.

Kita tetap ingin mencari apa yang BENAR, dan it’s okay to do that, RIGHT? In FACT, seumur hidup kita adalah untuk mencari apa sih yang seBENARnya BENAR? Keep looking and put all the pieces together, my friend. Hanya saja, ingat, orang lain juga sepanjang hidupnya mencari yang BENAR ini. Dan pada saat bertemu, daripada ribut tak berujung dan tak berguna, hormati pencarian masing-masing dan GO ON SEARCHING! Apabila butuh resolusi karena butuh adanya sebuah keputusan dari perbedaan, carilah advis, penengah, atau otoritas untuk mempersepsikan yang BENAR. Much more PEACEFUL resolution.

Jadi next time, Anda bisa memilih untuk mengatakan “You are WRONG!” atau “I respect your opinion, and here is mine ………!”

I’m writing this as I know I’m RIGHT, RIGHT?


by http://www.inspirasiindonesia.com

LOOK UP!

Oleh: Hingdranata Nikolay

Roger Banister adalah seorang pelari yang paling sering dipakai sebagai contoh bagaimana melewati batasan belief. Ia adalah orang yang pertama mematahkan berbagai anggapan bahwa adalah tidak mungkin untuk berlari 1 mil di bawah 4 menit. Pada jaman itu, John Landy, adalah seorang pelari yang juga sangat dikenal. Setelah Banister mematahkan rekor tersebut, Landy beberapa kali juga berlari di bawah 4 menit, seperti halnya pelari-pelari setelah masa mereka.

Bulan Agustus 1954, di British Empire Games di Vancouver, Kanada, Banister dan Landy bertemu dalam sebuah adu lari yang paling ditunggu pada masa itu. Dalam sebuah snap-shot yang diambil sepanjang 100 meter terakhir, terlihat bagaimana Landy, yang sudah memimpin, menoleh ke belakang untuk melihat di mana Banister, sementara Banister dengan cepat melakukan sprint melewatinya dari sisi yang lain. Banister memenangkan perlombaan tersebut.

Ada sebuah catatan menarik yang juga dipakai sebagai bahan refleksi buat kita dari duel ini. Sementara kita focus ke depan untuk melihat sesuatu yang menjanjikan, kadang melihat ke belakang bisa mempengaruhi momentum kita.

Kejadian ini mirip dengan saat saya menyaksikan sebuah balapan kuda di Maumere, Flores, sekitar tahun 80-an (saya lupa persisnya). Balapan itu paling membekas karena luar biasa! Di arena hanya ada 3 kuda sebagai babak akhir hari tersebut. Seekor kuda bernama Kuning Lupa Budi melakukan start dengan terlambat karena dia kaget dan tidak langsung berlari. Dia sampai tertinggal hampir 1 putaran di belakang 2 kuda lainnya. Saat itu joki-nya adalah seorang anak kecil yang gigih. Kuda terakhir dari kumpulan perlahan mulai disusul, dan saking paniknya melihat dia telah disusul dengan cepat dan diiringi oleh sorak sorai penonton yang ingin melihat keajaiban, joki dari kuda kedua lepas kendali dan jatuh. Masih tersisa satu putaran saat Kuning Lupa Budi bagai kilat melesat di samping kuda yang sedang memimpin! Saya masih ingat melihat joki kuda yang memimpin sibuk melihat di mana posisi Kuning Lupa Budi dan terus-menerus menoleh. Sampai saat dia sadar Kuning Lupa Budi sudah di sampingnya, dia pun sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena sekarang momentum ada di tangan lawannya! Perbedaan pencapaian dalam sebuah kompetisi antara yang fokus ke depan, dan fokus ke belakang!

Dalam sebuah program Goal Setting, Zig Ziglar bercerita mengenai seorang pelaut muda yang naik ke tiang layar untuk membenahi layar yang rusak diterpa angin kencang. Pada saat dia berada di tiang layar paling atas dan membetulkan dalam posisi melihat ke bawah, angin menerjang lagi. Dia pun segera kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Melihat dia gontai, seorang pelaut yang lebih senior berteriak dari bawah: “LOOK UP, son! LOOK UP!” Dan dia pun melihat ke atas dan segera mengembalikan keseimbangannya.

Jepang adalah contoh bagaimana sebuah negara yang fokus ke atas, bukan ke bawah. Mereka kehilangan paling banyak angkatan muda setelah perang dunia ke-2. Untuk bangkit pun mereka sulit karena mereka tidak punya kekayaan sumber daya alam yang bisa membantu. Apa yang terjadi? Mereka memilih untuk menyusun visi dan misi ke depan, dan komit untuk maju. Bukannya melihat ke belakang dan meratapi kehancuran dan apa-apa saja yang mereka tidak punyai. Hasilnya? Secara berturut-turut mereka menggenggam dunia dari decade 50-an sampai hari ini, awalnya dimulai dengan produk tekstilnya, baja (walau di decade 60-an mereka harus mengimpor bahan bakunya dan mengekspor kembali hasil produk dan bersaing dengan negara yang memproduksi baja dengan sumber daya sendiri), sampai dengan otomotif, dan elektronika di decade 80-an! Sekarang? Mereka adalah salah satu pemberi hutang terbesar di dunia! The result of LOOKING UP can be remarkable!

Why I’m telling you all these?

Sejarah, pengalaman, masa lalu, dan semua yang sudah kita lewati adalah sesuatu yang sudah lewat. We can learn from them and improve, but don’t have to go back all the time and re-live it.

Ada perbedaan yang besar antara belajar dari kesalahan atau kekurangan, dengan hidup di masa lalu dan menghidupi kembali kesalahan atau kekurangan kita!

Kecuali, tentu saja, apabila Anda bekerja di pekerjaan yang tugas dan tanggung jawabnya adalah Anda malah harus mencari ke belakang atau melihat ke bawah, seperti audit, accounting, penelitian, dan sejenisnya.

Dalam NLP dipelajari eye accessing cue, yangmana apabila kita melihat ke bawah, aksesnya adalah ke perasaan dan self-talk. Ini seringkali menyangkutkan pikiran ke peninjauan kembali apa yang telah kita lihat, dengar, dan rasakan. Apabila ini untuk menganalisa sesuatu yang penting dan berguna, tentu baik sekali. Apalagi apabila kita ingin mengakses kembali perasaan yang bisa memberikan Motivasi tambahan. Tapi apabila ini untuk mengakses kembali perasaan-perasaan yang akan menarik kita untuk mundur atau kehilangan momentum, think again. When you look down, you feel down. When you feel down, you are unlikely to be at your best.

Apabila ini terjadi, segeralah LOOK UP! Ini akan membantu Anda mengakses langsung ke Visual Construct dan berpikir lebih jernih ke depan.

Tidak semua kita terlatih untuk bisa melihat ke bawah dan melihat berbagai kegagalan, kesedihan, kekecewaan, dan bisa kembali ke keadaan normal dengan cepat.

Jadi LOOK UP adalah salah satu cara untuk merusak pola mundur Anda, jika Anda ingin fokus untuk bergerak maju.

It’s too hard to access your FUTURE view if you always look down!

The FUTURE view is accessible when you LOOK UP!

There is a choice for you today to LOOK UP!


by http://www.inspirasiindonesia.com

Congruence Matters!

Oleh: Hingdranata Nikolay

Andika adalah seorang manager yang selalu berusaha menjadi orang baik untuk siapa saja. Di depan bos dia menjadi bawahan yang baik dan seolah memberi jalan kepada setiap keputusan, dengan mengatakan bahwa keputusan itu baik, walaupun dia tidak setuju. Sementara di depan bawahannya, dia selalu menunjukkan sikap seolah ingin membahagiakan mereka dan kalau ada keputusan manajemen yang tidak bisa diterima bawahannya, dia akan mengambil sikap ‘itu pun sebenarnya saya tidak setuju tapi saya tidak bisa berbuat apa2’ Dia pandai melihat situasi dan bisa menentukan kapan dan dimana bisa mengatakan sesuatu untuk menyenangkan orang yang ditemui. Di mata dan telinga orang lain, dia seolah ‘peri’ yang bisa memberikan kesenangan untuk semua orang. Setelah pulang ke rumah, istrinya menjadi tumpahan curahan hati dan kekesalannya terhadap segala sesuatu yang terjadi di kantor. Baginya bosnya dan bawahannya selalu penuntut dan tidak mau mengerti, dan terutama tidak tahu kalau dia sebenarnya hanya pura2 setuju. Hanya kepada orang2 tertentu dia juga menumpahkan kekesalannya terhadap situasi yang ‘mengharuskan’ dia menjadi orang baik.

Rina adalah seorang manager yang sangat berambisi untuk meraih popularitas dan posisi bagus. Dia pandai ‘menyenangkan bos’ dan punya definisi tersendiri mengenai apa yang seharusnya terjadi dan dilakukannya terhadap bawahannya. Dia punya definisi sendiri tentang apa yang disebut adil. Dia memperlakukan berbeda orang2 yang dianggap bisa memberikan apa yang dia inginkan. Setiap ada kesempatan untuk berbicara, terutama di forum yang dia tahu bisa mengangkat popularitasnya, dia akan angkat suara mengenai segala sesuatu yang menurut dia ‘seharusnya’ dilakukan perusahaannya untuk maju, bagaimana seorang pemimpin itu seharusnya, apa yang seharusnya dilakukan sebagai seorang manager yang baik, dan berbagai nasihat, petuah, masukan, dan sejenisnya, yang secara umum belum pernah dipraktekkannya sendiri. Dia pernah membaca di beberapa buku atau yang diingatnya dari beberapa seminar. Begitu balik ke pekerjaan sehari-hari, dia adalah Rina yang begitu kelihatannya bersih. Beberapa anak buahnya yang setiap hari menghadapinya, paham betul sikap tidak konsisten yang selalu diambil Rina. Beberapa sudah kehilangan respek. Beberapa rekan sesama manager yang peka juga bisa ‘membaca’ sikapnya dan menjulukinya sebagai apa yang kita kenal sebagai ‘penjilat’. Rina sadar betul situasi ini, tapi tidak peduli. Dia tahu masih banyak orang yang bisa ‘diyakini’ mengenai betapa hebatnya dia dan apa yang dia tahu mengenai apa yang seharusnya terjadi.

Dua contoh di atas adalah dimana sesuatu yang TIDAK KONGRUEN terjadi.

Di NLP, KONGRUEN terjadi saat apa yang kita pikirkan, rasakan, dan katakan, selaras.

Apa yang menjadi misi kita dalam hidup, values, kemampuan, dan perilaku kita, berada dalam satu alignment. Harmonis.

Pernah mendengar orang berkata kepada kita “kamu tidak terlihat yakin”, atau “Tadi kamu bilang lain, sekarang lain”, atau “Kamu bilang ke saya berbeda, dan kamu bilang ke dia berbeda”, atau “Kamu sepertinya sangat yakin dengan hal ini”. Itu adalah contoh2 sederhana bagaimana kita di-kalibrasi atau dianalisa orang dan di-judge dalam hal KONGRUENSI.

Kita menemukan banyak sekali kasus di kehidupan sehari-hari dimana orang tampak tidak konsisten, tidak menjaga integritas, plin-plan, tidak jujur, dan lain-lain.

Seberapapun percaya diri atau memaksakan untuk percaya diri, orang-orang yang TIDAK KONGRUEN tidak bisa menyembunyikan diri dari fisiologi mereka dan fakta2 yang ada dan bisa digali orang lain. Dalam banyak kasus, hanya dari bahasa tubuh dan ekspresi wajah, orang bisa terlihat langsung apakah mereka KONGRUEN atau tidak. Dalam level sensitifitas yang lebih tinggi, kita juga bisa ‘sense’ atau ‘merasakan’ sesuatu yang KONGRUEN atau TIDAK KONGRUEN dalam diri orang lain.

Dalam banyak kasus di tempat kerja, sikap TIDAK KONGRUEN datang dari orang-orang yang paling tidak puas dan happy dengan pekerjaannya atau posisinya. Mereka ingin melakukan atau mendapatkan sesuatu yang berbeda, tapi harus mengerjakan pekerjaan mereka sekarang. Mereka ‘belief’ atau percaya bahwa mereka seharusnya mendapatkan ‘lebih’ dalam hal bayaran atau posisi, tapi mereka harus menerima kenyataan sekarang. Dan yang lebih parah, kadang mereka dimarahi atau mendapatkan feedback buruk untuk sesuatu yang justru tidak mereka nikmati mengerjakannya. Sudah jatuh tertimpa tangga, begitu kata pepatah.

Apakah Anda sendiri KONGRUEN? Coba cek misi Anda dalam hidup, values dan beliefs Anda, kemampuan Anda, perilaku Anda, dan lingkungan Anda saat ini. Apakah semuanya berada dalam satu garis lurus? Apakah semuanya sesuai dengan apa yang Anda inginkan? Atau banyakkah yang harus Anda kompromikan? Semakin banyak dari hal-hal di atas yang tidak selaras, semakin besar pula kemungkinan Anda TIDAK KONGRUEN. Robert Dilts, sang pencipta konsep ‘Neurological Level’ menyebut ini sebagai ‘Neurological Level Alignment’.

Saat Anda KONGRUEN, Anda dapat berpikir, merasakan, berbicara dan melakukan berbagai hal tanpa sama sekali takut akan feedback negative dari orang lain. Karena Anda katakan dan lakukan hal-hal yang sesuai dengan misi Anda, sesuai dengan yang Anda percayai, dan sesuai dengan kemampuan Anda, di saat dan tempat yang sesuai.

Saat Anda KONGRUEN, Anda juga semakin peka akan KONGRUENSI orang lain.

So, salah satu pilihan sikap hari ini adalah memerikan KONGRUENSI Anda.

Cek kembali misi Anda, values dan beliefs Anda, kemampuan Anda, perilaku Anda, dan lingkungan Anda.

Lalu, pikirkan saat Anda telah mencapai KONGRUENSI, apa yang telah Anda lakukan untuk bisa menuju ke sana.


CONGRUENCE DOES MATTER!

Lakukan HARI INI. Lakukan SEKARANG.


by http://www.inspirasiindonesia.com

Walk Which Pathway?

Oleh: Hingdranata Nikolay

Langkah kita ke masa depan, perolehan kita di masa mendatang, terjadi secara bawah sadar.

Bagi yang mencoba untuk menyadari, seolah tahu akan menuju ke sebuah titik yang sudah diketahui sebagai perhentian.

Bagi yang mencoba untuk tidak memikirkan dan berkata pada diri sendiri untuk ‘just follow the flow”, tetap saja tahu menuju sebuah titik yang mempunyai pola yang sudah diketahui sebelumnya.

Entah mencoba menyembunyikan ketakutan akan kenyataan yang akan dihadapi, atau sekedar mencoba menghibur diri, kita hanya bisa berpura-pura tidak ingin memikirkan titik tersebut.

Tetapi, secara bawah sadar, kita terus melangkah ke titik tersebut. Tanpa perlawanan, tanpa intervensi. Kita semua tahu akan tiba di sana, cepat atau lambat!

Itu mungkin kabar buruknya, yangmana seolah kita semua punya sebuah jalan setapak yang harus kita lalui dalam hidup.

Kita semua seolah secara bawah sadar mempunyai system berpikir dan bersikap yang sudah terprogram dan mengikuti blue print yang sudah ada dalam diri kita.

Seolah-olah semuanya sudah tidak bisa kita hindari!

Kabar baiknya, persepsi kita adalah persepsi kita!

Semua yang kita lihat, dengar, dan rasakan, adalah persepsi kita.

Semua informasi yang masuk dan kita terjemahkan melalui kelima indera kita, proses filter informasi ini di pikiran kita, values dan beliefs kita, pengalaman kita, preferensi pribadi kita, semuanyalah yang membentuk perpepsi ini! Semuanyalah yang membentuk model dunia yang kita hidupi. Semuanyalah yang membuat program dan blue print tersebut!

Kita berpikir dan bersikap menurut model dunia kita!

Yang berarti bahwa kita punya peran dan control untuk merubah program dan blue print-nya!

Yang berarti bahwa jalan setapak yang sekarang sedang kita tempuh ternyata BUKAN SATU-SATUNYA JALAN!

Kita bisa membentuk jalan setapak baru menuju titik yang berbeda!

Kita hanya belum bisa melihatnya dan butuh inspirasi untuk bisa menemukannya!

Setiap kali kita menemukan sebuah inspirasi baru, ada modifikasi di program atau blueprint kita. Yang berarti ada perubahan secara bawah sadar.

Semakin besar pengaruh inspirasi, semakin besar pula modifikasinya.

Robert Dilts mengungkapkan pengaruh ini dalam 6 tingkatan neurological level, dari tingkat spiritual, identitas diri, beliefs, kemampuan, perilaku, sampai tingkat lingkungan.

Semakin tinggi tingkat di neurological levelnya, semakin luas pula pengaruhnya pada bawah sadar.

If you ask me, HOW THEN I CAN CHANGE MY CURRENT PROGRAM SO I CAN WALK DIFFERENT PATHWAY, I would simply answer like this:

Find yourself as many inspirations as possible! Read books, talk to people who you feel inspiring, join seminars, join communities, share your new findings, etc.

Anda mungkin tidak akan tergerak oleh semua insprasi yang Anda temui, tapi akan ada beberapa yang akan menggerakan pikiran Anda dan membuat Anda untuk berkata “A-Ha! This is it!”

Gunakan momentum itu untuk SEGERA meluaskan awareness Anda akan hal-hal yang berhubungan dengan apa yang baru saja menyadarkan Anda.

NEW PATHWAYS WILL THEN START TO BE FEASIBLE.

Pintu-pintu akan terbuka dan jalan-jalan akan terbentang!

At the end, it’s a CHOICE!

WE CHOOSE to walk on the ONLY PATHWAY we know, or CREATING MORE PATHWAYS for our selves and WALK THROUGH THE ONE WE REALLY WANT!

As, I’ve always said: MAKE YOUR CHOICE!

TODAY! RIGHT NOW!


by http://www.inspirasiindonesia.com




Expectation

Oleh: Hingdranata Nikolay

Apakah kita benar-benar bisa mencapai semua yang kita inginkan?

Anda membaca di kalimat-kalimat seminar yang dijual oleh pembicara-pembicara Motivasi bahwa ‘You can achieve everything that you want’ atau ‘Anda bisa mencapai apapun yang Anda mau!’

Katanya syaratnya adalah kemauan. Yang penting benar-benar menginginkannya.

Lalu pertanyaannya: berapa kali Anda benar-benar menginginkan sesuatu tapi pada akhirnya Anda tidak mendapatkannya?

Jadi, apakah slogan tersebut mempunyai kekuatan universal yang sama untuk setiap orang?

Saya membaca kembali beberapa artikel yang menggugah selera semalam mengenai bagaimana beberapa figur yang dengan determinasi luar biasanya mencapai hal-hal yang menurut orang lain pada awalnya tidak mungkin. Abraham Lincoln kalah sebanyak 23 dari 26 kali pemilihan, Edison melalap puluhan ribu eksperimen sebelum sukses dengan 1000 ciptaannya, Ford dan Honda yang harus bangkrut dahulu sebelum akhirnya sukses besar, bahkan sampai ke Joe Girard, sang salesman terbaik dunia, yang pada masa mudanya harus kelilit hutang dan berhutang $10 untuk membeli makanan untuk keluarganya pada saat berhasil menutup penjualan pertamanya, dan bahkan harus dipecat dari dealer mobil pertamanya, dan lain-lain.

Mereka adalah contoh-contoh orang-orang yang memang benar-benar menginginkan sesuatu dan mendapatkannya.

Tapi, apakah mereka bermodal kemauan saja?

Edison misalnya, saat dia ‘tahu’ atau bisa menduga bahwa sebuah penemuan baru sudah di ambang pintu, dia bisa menghabiskan 24 sampai 72 jam di workshopnya.

Setelah dipecat dari dealer mobil pertamanya, Joe Girard ‘tahu’ bahwa pelanggan mau membeli darinya dan bahwa dia bisa menjual mobil. Dalam karirnya dia menjual lebih dari 13 ribu mobil.

Buku Zig Ziglar ‘See You at the Top” ditolak oleh publisher, demikian pula dengan Jack Canfield dengan Chicken Soup-nya.

Pada publisher berkata bahwa buku itu tidak akan terjual.

But, they know better! Mereka ‘tahu’ bahwa buku mereka akan laris. Oleh karena itu mereka tetap menerbitkannya. The result speaks for itself.

Dari personal point of view, menurut saya kita tidak akan mendapatkan semua yang kita inginkan.

Akan tetapi, dengan berjalannya waktu, kita biasanya akan mendapatkan apa yang kita duga atau ‘tahu’ akan kita dapatkan.

You see, wanting something is not the same as expecting to get something.

Dan harap dicatat, ekspektasi untuk mendapatkan sesuatu tidak persis sama dengan mengharapkan untuk mendapatkan sesuatu.

Kita bisa berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dan harapkan, dan begitu kesulitan datang, kita bisa mempunyai dugaan atau ekspektasi bahwa kita tidak akan bisa mendapatkannya. Bisa jadi selama kita melakukan, kita sudah ‘tahu’ bahwa kita tidak akan mencapainya.

Pernah berada dalam situasi di mana Anda benar-benar menginginkan sesuatu, tapi Anda tidak yakin berhasil? Dan setelah Anda mencoba dan tidak berhasil, Anda berkata “I knew it!” atau “Tuh, khan! Saya udah tahu nggak bisa!”

Kita bisa membentuk mental image dalam pikiran kita akan apa yang kita inginkan dan harapkan.

Yang membedakan adalah bahwa ekspektasi membentuk image apa yang kita tahu akan kita dapatkan.

Kedua hal di atas sangat berbeda.

Banyak orang menginginkan sesuatu tapi tidak mempunyai ekspektasi akan mendapatkannya.

Mereka menginginkan sebuah rumah, mengharapkan dengan sangat, lalu dalam pikiran mereka hanya bisa berkata “Ngapain menghayalkan sesuatu yang saya tahu saya tidak akan bisa mendapatkannya”.

Mereka menginginkan seseorang yang berparas cantik atau tampan untuk menjadi pasangannya, lalu dalam pikiran mereka berkata “Kayaknya dia bukan untuk saya”

Mereka ingin dan berharap mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus, tapi dalam hati mereka tahu bahwa mereka tidak akan bisa mendapatkannya.

Mereka ingin dan berharap untuk berhasil mencapai sales yang bagus, tapi mereka juga mempunyai dugaan bahwa itu akan sulit dicapai.

Saat Covey berbicara mengenai thinking with the end mind, lalu NLP berbicara mengenai well-formed outcome, Zig Ziglar berbicara mengenai seeing the reaching, Anthony Robbins berbicara mengenai outcome yang crystal clear, apakah mereka berbicara hanya mengenai kemauan atau juga ekspektasi akan apa yang akan didapatkan? You know the answer.

Kemauan akan sesuatu tanpa bisa mengasumsikan diri kita sudah memperolehnya (berekspektasi), bagai membuat goal tanpa Anda sendiri yakin bisa tercapai.

Pernah mendengar kisah mengenai Larry Bird (pemain basket NBA legendaries) dalam sebuah iklan minuman? Dalam iklan tersebut Larry seharusnya ‘sengaja’ miss dalam tembakannya.

Terjadi beberapa re-take karena alasan yang sangat sederhana; dalam tembakan yang seharusnya miss, justru masuk.

Mungkin banyak yang tahu bahwa ia adalah seorang penembak 3 angka terbaik pada jamannya.

Ia ingin tembakan tersebut miss, tapi setiap saat dirinya membuat tembakan tersebut, ia tahu dan mempunyai ekspektasi bahwa bolanya akan masuk! Dan masuklah bolanya.

Ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, tapi apa yang ia ekspektasikan!

Salah satu pilihan sikap hari ini, cek kembali apakah apa yang Anda inginkan sesuai dengan apa yang Anda tahu akan Anda dapatkan.

Apabila cocok, maka Anda punya kans besar untuk benar-benar mendapatkannya.

Apabila tidak, maka coba cek kembali apakah ada yang salah dengan apa yang Anda inginkan, atau ekspektasi Anda akan apa yang Anda inginkan.

TODAY, RIGHT NOW!


by http://www.inspirasiindonesia.com


ANCHOR Posisi

Oleh: Hingdranata Nikolay

Pernah duduk di sebuah tempat, ingin menyelesaikan sebuah masalah tapi solusi tidak kunjung datang?

Atau duduk di sebuah tempat berusaha memikirkan sebuah ide tapi tidak bisa kreatif?

Ini bisa jadi erat kaitannya dengan ANCHOR (trigger/pemicu terhadap sebuah pemikiran dan perilaku) Anda terhadap posisi duduk atau berdiri Anda, entah itu kursi kerja, ruangan, space, dll.

Bisa jadi, pada saat Anda berada di posisi tersebut, Anda sudah ter-ANCHOR untuk sebuah pola pikir dan perilaku tertentu, sehingga Anda sulit untuk memikirkan sesuatu yang berbeda.

Misalnya di kursi kerja Anda, yang setiap hari Anda lakukan adalah memeriksa keuangan, neraca, dan lain-lain.

Bahkan Anda pernah menghasilkan sebuah prestasi hebat dari tugas Anda tersebut di kursi tersebut.

Pada saat Anda diminta untuk mengkreasikan sesuatu, Anda bisa saja stuck.

Kursi Anda telah ter-asosiasikan dengan proses pemeriksaan, yang di NLP (Disney Strategy) dikenal sebagai posisi CRITICS.

Padahal untuk berkreasi Anda butuh ANCHOR kreatif, yakni posisi DREAMER dalam Disney Strategy.

Kalau sampai ini terjadi pada Anda, dimana Anda tahu bahwa sebuah posisi telah menyebabkan Anda ter-ANCHOR terhadap sebuah proses pemikiran, SESUAIKANLAH posisi Anda.

Pindahlah ke sebuah tempat atau posisi. Ini bisa saja Anda lakukan dengan sekedar berdiri menjauh dari kursi Anda sejenak untuk memperoleh pemikiran yang berbeda.

Kalau Anda sekedar berjalan-jalan atau yang menurut Anda cari angin, yang terjadi hanyalah BREAK STATE, atau pemutusan ANCHOR sementara.

Begitu Anda kembali duduk, ANCHOR-nya juga kembali, dan belum pasti bisa maksimal.

Jadi kalau Anda seringkali mengalami kesulitan berpikir dan berperilaku tertentu di sebuah posisi atau tempat duduk Anda, coba cek kembali, di posisi tersebut ANCHOR apa yang telah tercipta untuk Anda. Lalu pilihan sikap Anda adalah mempertimbangkan posisi yang berbeda untuk pola pikir berbeda.

Dalam Disney Strategy, ada 3 posisi, yakni DREAMER, REALIST, dan CRITICS. Di posisi berbeda, kita bisa memaksimalkan potensi berpikir masing-masing.

Einstein berkata bahwa sebuah masalah yang ditimbulkan dari sebuah proses berpikir tidak bisa diselesaikan dengan proses berpikir yang sama.

Karena itu kita sulit mencari solusi masalah dengan pola pikir yang sama dimana masalah itu timbul. Perlu pola berpikir yang berbeda.

ANCHOR tidak jauh berbeda dengan prinsip ini.

Di sebuah titik kita bisa begitu kreatif, tapi di titik yang sama kita sulit melihat kesalahan dari kreatifitas kita.

Di sebuah titik kita bisa begitu kritis, tapi di titik yang sama kita sulit maksimal dalam berkreasi.

Di sebuah titik dimana kita begitu terorganisir, sulit bagi kita untuk maksimal dalam berkreasi.

Di kursi kerja Anda, apakah ANCHOR yang telah tercipta untuk Anda?

So, pilihan sikap hari ini adalah memeriksa ANCHOR POSISI Anda dan menyesuaikan dengan keinginan berpikir dan berperilaku Anda.

Seperti pola pikir di NLP untuk FLEKSIBEL dan merubah pendekatan menuju HASIL AKHIR.

Do it TODAY. Do it NOW!


by http://www.inspirasiindonesia.com