Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2012

Empati, Mi Instan & Harapan

"Hidup tak selezat mi instan..." - Anonym

Siapa yang tak suka dengan hal yang instan ? Contohnya, kaya mendadak karena lotre, dapat warisan entah darimana datangnya, atau menjadi artis idola lewat jalur kompetisi dan hal-hal instan lainnya yang tak bisa disebutkan semuanya.

Semua hal instan tersebutselain dapat menghemat waktu, tenaga, materi dan lain-lain, memang sudah menjadi bagian dari sifat manusia untuk menyukai proses instan.

Nah, siapa yang suka mi instan ? Saya juga suka kok. Selain mudah penyajiannya, aroma yang menggoda dan rasanya yang lezat memang sengaja dirancang agar membuat kita puas dengan mi instan. Tahukah Anda informasi kesehatan tentang min instan yang biasa beredar di pasaran ?

Saya pastikan Anda juga bisa mencari artikel tentang bahaya dari memakan mi instan secara intens. Dampaknya bisa memicu kanker, usus di potong, dan lain sebagainya.

Tapi di beberapa lapisan masyarakat khususnya ekonomi lemah, mi instan justru menjadi pelipur lara perut yang kosong. Bayangkan, dengan uang seribu Rupiah saja sudah bisa menikmati seporsi mi instan setara dengan sepiring nasi untuk mengganjal perut. Layaknya, mi instan hanyalah sebagai makanan darurat saja sebagai pengganti makanan utama.

Empati

Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya mi instan lebih di asosiasikan dengan makanan si jelata. Jelata bagi keluarga kurang mampu, mahasiswa berkantong tipis, dan seperti saya yang harus berhemat untuk biaya hidup setelah akad nikah, hehehehehehe...

Mari kita berhitung dulu ya. Jika dalam sehari kita makan 3 kali sehari dengan hitungan per sekali makan habis uang Rp 10.000/ porsi/sekali makan dengan minum hanya air putih masak, maka dalam sebulan habis biaya makan hingga rata-rata Rp 900.000/bulan.

Jika dengan makan mi instan hanya habis biaya Rp2.500/ porsi/ sekali makan dengan asumsi sehari 3 kali makan dan minum air putih masak, maka dalam sebulan hanya habis Rp 225.000/ bulan. Bandingkan perbedaan angka 900.000 dengan 225.000. Perbedaan angka yang fantastis jika dilihat dari sisi rakyat jelata.

Harapan

Bukan tanpa alasan memindahkan kebiasaan sehat menjadi makan-makanan instan yang murah. Saya setuju dengan Anda dengan jawaban alasan PENGHEMATAN. Alasan klasik seperti gaji tanggal 1 sudah koma alias gaji sudah tak cukup untuk menutupi kebutuhan pokok padahal baru tanggal muda, alasan menabung untuk investasi masa depan, atau alasan-alasan yang lain.

Bukan berarti para mahasiswa harus dipaksa untuk tidak makan mi instan kalau toh juga biaya pendidikan makin mahal. Tapi itulah korelasinya jika biaya pendidikan makin tinggi, sudah seharusnya makin mengencangkan ikat pinggang dan memberi isi perut dengan mi instan.

Bukan berarti dengan paksaan ekonomi makin banyak warga pinggiran makin memfavoritkan makan mi instan dan traditional dry rice ( nasi aking) sebagai dampak makin sulitnya mendapatkan penghidupan yang layak di negeri sendiri.

Empati & Harapan

Apakah arti empati bagi kita semua jika ada tetangga di sebelah masih harus menahan lapar? Apakah kita masih sanggup menggantungkan harapan dari berseliwerannya mobil box mi instan yang sedang mendistribusikan mi instannya ? Atau, masihkah kita harus miskin dengan makanan pokok mi instan ?

Ditengah saudara-saudara kita yang masih mengkonsumsi pangan mi instan, masih ada harapan untuk perjuangan penghidupan layak , seperti pendidikan yang terjangkau, menjadi pasangan yang harmonis yang tak cekcok dengan masalah dapur keuangan, dan kesehatan yang layak walaupun  menapaki proses yang tak instan pula akan cita-cita masing-masing individu dan kolektif.

"Tulisan ini sebagai renungan sebelum liburan"



Senin, 05 November 2012

Secercah Kemandirian

Hari ini saya masih diberi kesempatan untuk menulis blog kesayangan yang satu ini. Alhamdulillah ya,hehehehe...

Sudah 26 tahun saya masih numpang di planet bernama bumi hanya untuk sekedar mencari pembenaran salah satu hal penting dalam hidup kita yaitu makna kemandirian.

Kita ambil contoh sederhana, seseorang yang rela untuk meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke daerah lain untuk penghidupan yang layak bisa dipastikan akan lebih terpacu semangat bertahan hidup misal bekerja dengan sungguh-sungguh karena pekerjaan tersebut yang menjadi sumber penghidupan satu-satunya.

Apakah kita harus menjadi perantauan agar terbentuk mental mandiri ?

Tidak juga. Contoh lain seperti berusaha menjadi pedagang/ pengusaha di bumi tempat kaki berpijak juga termasuk langkah menuju kemandirian kok. Mandiri dalam hal finansial lho.

Terus, gimana dong supaya menjadi mandiri ? "Malu dong kalau mandi aja masih di mandiin ama emak.." celoteh anak-anak zaman sekarang. Makanya, baca terus artikel saya ini ya.

Menjadi Mandiri

Sedikit berbagi pengalaman saya berbincang dengan tukang becak bermotor langganan. Kita sebut saja pak Marbun namanya. Beliau semasa masih remaja sudah berprofesi menjadi tukang becak dayung. 30 tahun kemudian becaknya sudah memiliki mesin sehingga berprofesilah menjadi tukang becak motor yang setia mengantarkan para penumpangnya menuju alamat yang ditujukan. Ya, sekarang beliau di usia senja masih setia dengan profesinya sebagai veteran tukang becak ditemani seorang istri yang selalu setia dengan pak Marbun. Sampai sekarang tetap setia untuk menyisihkan sebagian pendapatan untuk pembangunan gereja ditempat pak Marbun biasa beribadah walaupun dalam nominal sangat kecil.

Cerita lainnya adalah kawan saya yang sudah bekerja sebagai pegawai swasta dengan posisi yang layak dan mendapatkan gaji yang pas untuk menghidupi dirinya sendiri, tapi masih terus saja mengeluh dengan setumpuk masalah kerjaan kantoran yang selalu mengganggu psikisnya dan terus menerus merasa tidak puas dengan gaji yang diterimanya tiap bulan. Alhasil, gajinya pun habis untuk sekedar entertainment/ liburan.

Ada juga seorang teman saya juga yang ditinggal meninggal kedua orang tuanya, kemudian terpuruk dalam kemiskinan. Berkat kemampuannya untuk bangkit dari keterpurukan mental, akhirnya sekarang sukses menjalani bisnis ponsel di kotanya, walaupun semasa masih merintis usaha ponselnya, saudara-saudaranya menganggap sebelah mata karena teman saya ini dianggap tidak kompeten berbisnis. Nyatanya, beliau sekarang termasuk dalam jajaran pengusaha yang patut diacungi jempol oleh berbagai kompetisi wirausaha seperti wirausaha muda mandiri. Setiap hari terus dibiasakannya untuk bersedeqah kepada yang berhak sebagai wujud empati susahnya hidup seperti yang pernah ia rasakan juga.

Nah, apa arti kemandirian dari ketiga cerita tadi ? Menurut saya adalah :

1. Totalitas

Totalitas / kesungguhan kita menjadikan diri sebagai pribadi yang sangat pantas akan profesi yang kita jalani saat ini adalah salah satu kunci utama kemandirian. Totalitas muncul jika kita mencintai pekerjaan/ kehidupan kita. Kesungguhan kita dengan pekerjaan saat ini, menunjukkan kita mandiri secara persepsi bahwa kita bekerja seolah-olah pekerjaan tersebut adalah perjuangan hidup dan mati. Andaikan besok Anda akan mati, tentunya hari ini Anda akan sangat bersungguh sungguh berbuat baik dengan sesama dan begitu khusyuk beribadah, bukan ? Dengan totalitas, kita dianggap loyal dan berdedikasi lho.

2. Persepsi yang benar

Pada cerita pegawai swasta di atas, menunjukkan bahwa dia mandiri secara finansial, tapi masih bermanja-manja dengan entertainment (hura-hura) sebagai pelampiasan ketidak puasan dengan kondisinya saat itu. Kita tidak harus menjadi mandiri semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses pembelajaran agar memiliki pandangan hidup (persepsi) yang benar seperti semula mandiri secara finansial, kemudian mandiri secara kejiwaan, naik tingkat lagi menjadi mandiri dalam hal berpikir objektif sehingga tercapai kemandirian secara utuh. Terus membenahi cara berpikir juga termasuk proses menuju kemandirian berpikir.

3. Berpikir cerdas

Pikiran adalah pelita harapan. Semboyan ini benar adanya. Bayangkan apabila suatu pekerjaan dikerjaan ala orang bodoh. Tentu hasilnya buruk bukan ? Meningkatkan kualitas diri melalui membaca, mengikuti forum diskusi hingga menjadikan diri pribadi yang layak disebut mandiri secara intelejensia.

4. Syukur

Nilai tertinggi bahkan (menurut saya) tidak semua orang bisa melakukannya adalah syukur. Lihatlah kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah tapi rakyatnya masih miskin. Ini adalah tanda kita masih belum mandiri karena kurang bersyukur kepada Tuhan yang Maha Memiliki. Arti syukur adalah kita mampu dekat dengan Tuhan seperti taat dengan aturan yang digariskan Tuhan sehingga apapun kehidupan yang dijalani tentunya menunjukkan kemandirian secara spiritual. Syukur juga dapat membentengi diri dari sikap gampang menyerah, karena dengan bersyukur kita menjadi optimis besok akan lebih baik daripada hari ini. Sudahkah kita bersyukur untuk hari ini karena masih diberi kesempatan membaca artikel blog saya ini ? hehehehehe

Kesimpulan

Menjadi pribadi yang mandiri adalah dambaan bagi orang-orang pemberani, dinamis dan siap menerima kesuksesan. Tak lagi berpangku tangan, mampu bekerja sendiri adalah definisi kuno tentang arti kemandirian. Mandiri adalah serangkaian sistem pendukungnya yang bekerja secara harmoni seperti totalitas, berpikir cerdas, memiliki persepsi hidup yang tepat dan rasa syukur.

Ini adalah definisi mandiri menurut saya. Bagaimana dengan Anda ?

"Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.“







Sabtu, 06 Oktober 2012

Manusia Komisi Pemberantasan Korupsi

Wong namanya juga negara masih berkembang di Indonesia, suatu saat yang lalu saya membaca sebuah artikel tentang bagaimana tingkatan korupsi di berbagai negara. Perhatian saya tertuju pada bagaimana keadaan suatu negara yang korup dapat dilihat dari siapa pihak yang paling korup dan dominan dalam korupsi.

Berikut ulasannya :
 
1. Negara paling miskin yang korup adalah para penguasa lokal yg miliki senjata. Contoh negaranya adalah Afrika pedalaman.

2. Negara terbelakang maka yang korup adalah rejim mi
liternya seperti Korea Utara.

3. Negara sedang membangun maka yang korup itu rejim kepolisian, aparat hukumnya. Indonesia lebih berada di titik ini.

4. Negara yang sudah berkembang maka yang korup adalah para politisinya. Negara Eropa Barat diluar Jerman, Skandinavia berada di titik ini seperti Italia atau Spanyol.

5. Negara maju maka yang korup adalah para top eksekutif MNC (Multi National Corporation), investment Banker serta pemilik pemilik modal greedy. Jerman, AS, Jepang ada di titik ini.
 
Nah, super power aparat kepolisian yang kabarnya dari Polda Bengkulu dan Metro Jaya lagi-lagi menunjukkan aksi "solidaritas" sangat salah arah dengan akan menangkap Wakil Ketua Satuan Tugas Penyidik Kasus Simulator SIM KPK, Kompol Novel Baswedan dan Yuri Siahaan, keduanya berasal dari POLRI. Kasus ini menyeret perwira tinggi POLRI, mantan Dirlantas Mabes POLRI, Irjen Djoko Susanto. (sumber)

Bukankah penanganan kasus korupsi sudah menjadi wewenang KPK? Dan bukan rahasia umum lagi jika korupsi di tubuh kepolisian RI sangat mudah ditemukan mulai dari level jalanan raya, pengurusan SIM, surat menyurat, dan lain lainnya?

#saveKPK sudah menjadi trending topic di twitter. Kekuatan netizen menunjukkan tajinya bahwasanya kebenaran akan fakta/ isu akan mudah menyebar melalui social media. Dan ini (lagi-lagi) menjadi bumerang kepolisian RI.

Social media memiliki peran penting untuk mendukung penuh jihad KPK melawan korupsi.

Selamatkan KPK. Hidup mulia dengan memberantas korupsi.




Rabu, 26 September 2012

Pendatang Baru Bernama Tata Motor Indonesia

Sudah terobesi punya mobil baru tapi dana masih mencekik ? Mmm...jangankan Anda, saya pun juga punya keinginan memiliki mobil yang harganya sangat murah namun tetap berkualitas tinggi, ramah lingkungan, layanan purna jual yang mendukung dan sangat hemat bahan bakar.

Saya bisa memberikan alternatif mobil tersebut bisa dijawab oleh Tata Motor Indonesia.

Pasar otomotif mobil di Indonesia memang sangat ketat. Apalagi saat ini masih dipegang kuat oleh beberapa merk ternama yang merupakan pemain lama seperti Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Suzuki, Mercedez Benz, BMW, KIA, Hyundai dan sebagainya. Kehadiran brand baru seperti Tata Motor dengan merk ternama mereka -Tata- pasti menambah sengit perang di pasar otomotif Indonesia.

Kita sebut saja produk andalan mereka yang menjadi ikon mobil termurah di dunia yaitu Tata Nano.

Dengan spesifikasi :









Dimensi

Panjang keseluruhan 3.099 mm
Lebar 1.495 mm
Tinggi 1.652 mm
Wheelbase 2.230 mm
Ground clearance 180 mm
Kapasitas 4 orang
Berat 600-635 kg

Mesin

Tipe: 624 cc, 2 silinder, MPFI
Daya maksimum 35 hp pada 5.200 RPM
Torsi maksimum 48 Nm pada 3.000-3.500 RPM
Kecepatan maksimum 105 km/h
Konsumsi BBM 23,6 km per liter

Suspensi

Depan Independent, lower wishbone, McPherson Strut
Belakang, Independent, Semi Trailing arm with coil spring Ban
Ukuran ban depan 135/70 R 12
Ukuran ban belakang 155/65 R 12
(sumber)

Diperkirakan harga jual on the road sekitar 30 jutaan (sumber)

Bagaimana respon masyarakat terhadap mobil ini ? Tentu beragam tanggapan di lontarkan seperti yang dilaporkan salah satu portal berita di ajang IIMS 2012 (silahkan klik)

Strategi Tata
Menilik dari pernyataan Mr. Biswadev Sengupta, president director Tata Motors Indonesia sebagai berikut :

"Saat ini Tata masih berada pada tahap yang sangat awal. Saat ini kami sedang menyemai untuk menumbuhkan brand image di masyarakat Indonesia. Indonesia adalah pasar besar si kawasan dan berpotensi menjadi pasar utama di dunia. Populasi mobil masih 40 per 1000 penduduk, jauh dibawah Thai yang sudah 150 per 1000 penduduk. Indonesia masih terus akan berkembang. Didukung perkembangan ekonomi yang terus meningkat.  Membuat rakyat Indonesia punya uang. Hal itu melahirkan kebutuhan untuk memiliki properti, mobil, perhiasan dan lain sebagainya. Indonesia juga negara besar, bukan cuma  jabodetabek. Tata akan mengembangkan pasar ke seluruh Indonesia bukan cuma Jawa. Kami sangat serius untuk masuk Indonesia. Kami lakukan dengan sungguh-sunguh. Dan begitu kami masuk, kantor pusat kami akan benar-benar komitmen. Sebelumnya kami sudah lima tahun menjalankan bisnis di Thailand, kami sudah belajar tradisi bisnis dikawasan ini. " (sumber )

Sebagai pendatang baru, perlu tenaga yang ekstra keras untuk menggerakkan lokomotif Tata di pasar otomotif Indonesia. Apa brand image Tata yang ingin di bangun? Apa pula Authentic Brand Story yang akan dibangun untuk mengakselerasi promosi WOM oleh Tata ? Strategi apa yang akan dibangun mengalahkan Goliath Toyota dan merk-merk lainnya yang sudah lama di Indonesia? Jalur kanal promosi pemasaran manakah yang  efektif untuk segera memanen image ? Sudah siapkah sistem produksinya untuk menghindari indent panjang ? Bagaimana kesiapan layanan purna jualnya? dan segenap pertanyaan lainnya yang menghadang di depan Tata Motor Indonesia...

Sungguh pertanyaan yang singkat namun patut dipersiapkan langkah-langkah nyata sebagai pendatang baru.

Perlu Segalanya


Tak bisa dipungkiri, animo masyarakat akan mobil murah, ramah lingkungan dan hemat bahan bakar merupakan sinyal akan ceruk pasar yang sangat potensial untuk digarap. Tata motor mencoba menggarapnya dengan memperkenalkan produk Tata Nano sebagai solusinya. Bagaimana respon masyarakat kedepannya ? Perlu persiapan matang, apalagi pesaing utama Tata Nano kalau di lihat lebih teliti lagi, justru datang dari penjualan mobil bekas dengan sederet produk mobil dari merk-merk yang sudah sangat kuat.

Keraguan utama kebanyakan konsumen otomotif adalah kualitas. Apakah Tata Motor mampu menghadirkan kualitas produk yang handal layaknya produk Jepang? Saya pikir, perusahaan yang sudah go international seperti Tata Motor sudah menjamin keunggulan produknya. Nah, bagaimana mengubah persepi merk yang selama ini masih menjadi image merk kebanyakan konsumen agar segera beralih ke produk dengan merk Tata ?

Kita ambil saja contoh kasus merk sepeda motor dari India,  Bajaj Pulsar dengan mengusung teknologi twin spark yang mampu membuat kendaraan menjadi sangat hemat konsumsi bahan bakar fosil (BBM) dibanding sepeda motor merk jepang seperti Honda atau Yamaha. Kualitasnya mampu menyaingi merk-merk Jepang. Layanan purna jualnya juga mantap. Namun lihatlah kenyataan dilapangan, walaupun  Bajaj Pulsar yang mampu membuat rekor MURI sebagai kendaraan sport paling hemat masih harus tertatih-tatih melawan gempuran persepsi masyarakat " kalau naik kreta, ya naik Honda aja".

Begitulah stereotip masyarakat akan brand image. Susah lho mengubahnya untuk memilih merk yang lain.

Angin Segar

Konsumen Indonesia juga orang pintar. Apakah Tata Nano dipersepsikan konsumen sebagai produk untuk kelas masyarakat menengah ke bawah ? Tentu itu berkorelasi erat dengan harga. Apakah harga yang ditawarkan sepadan dengan fasilitas yang diberikan sesuai dengan harapan konsumen? Saya pikir, konsumen tetap lah makhluk yang serakah untuk memberikan kompensasi sekecil-kecilnya untuk mendapatkan kepuasan sebesar-besarnya. Namun, dengan perkembangan era digital, memunculkan konsumen yang dedicated dan rasional.

Dengan dukungan program pemerintah low cost green car, peluang makin terbuka lebar.

Saya pikir, Tata muncul disaat waktu yang tepat dengan kondisi yang tepat pula.

Bagaimana dengan Anda menilai Tata sebagai pendatang baru di pasar otomotif Indonesia? Berikut video Tata Nano dengan versi teranyarnya yaitu Tata Pixel dan Tata Megapixel. Saya yakin, Anda terkagum kagum dengan mobil -kacang goreng- Tata dan kemungkinan besar Anda akan sangat bernafsu untuk memilikinya segera .

Let's check it out!

 

 

 

Menarik sekali video yang ditampilkan. Bisa saja muncul pernyataan yang merakyat seperti berikut ini :
"Ketimbang naik kereta kena panas dan hujan, lebih baik naik mobil Tata Nano/ Pixel / Mega Pixel." hehehehehe

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda.


















Senin, 24 September 2012

Social Media Engineering Ala Jokowi-Ahok

Pertarungan dua kubu, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, dalam memperebutkan suara warga dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tidak hanya terjadi di dunia nyata. Di dunia online, pertarungan juga terjadi dan tidak kalah seru.

Pertarungan keduanya seolah menjadi pertarungan dua brand yang berbeda. Sebelum memasuki pentas pemilihan kepala daerah DKI Jakarta,Fauzi Bowo (Foke) dan Joko Widodo (Jokowi) merupakan dua brand yang memiliki penetrasi di medan yang berbeda-beda. Jokowi, dengan latar belakang daerah, otomatis tak begitu dikenal luas seperti halnya Foke yang sudah akrab di telinga warga ibu kota Jakarta.

Namun, dalam rentang dua bulan terakhir, brand Jokowi justru berada di atas brand Foke. Seperti halnya, hasil hitung cepat perolehan suara Pilkada Jakarta putaran II, pasangan Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengungguli pasangan Foke-Nachrowi Ramli (Nara).

Fenomena ini dengan mudah bisa dicatat oleh berbagai situs pemeringkat kompetisi brand melalui pelacakan rekam jejak percakapan terkait dengan dua nama yang berkompetisi itu di jagat internet.

Menurut laman web analytics.topsy.com, salah satu situs yang menyediakan pelacakan percakapan brand, terutama di jejaring sosial Twitter, sejak 24 Agustus 2012, kata kunci Jokowi terus memimpin melawan Foke hingga 21 September, sehari setelah pemungutan suara. Jokowi rata-rata dibicarakan 15.000-30.000 kali tiap hari.

Dari grafis yang dihasilkan Topsy, banyaknya mention atau penyebutan terhadap brand Jokowi ataupun Foke berbanding lurus dengan berita yang ada di media massa.

Nama Jokowi di dunia maya terutama melonjak dibicarakan orang pada 16 September, dipicu berita di sebuah media massa berjudul ”Foke Pertanyakan Motivasi Jokowi Jadi Cagub”.

Berita itu tampaknya lebih condong mengekspos nilai negatif dari Jokowi, tetapi kenyataannya justru memberi umpan balik atau sentimen positif terhadap Jokowi dengan menghasilkan sebanyak 88.441 percakapan di Twitter. Pada hari sama, percakapan terhadap brand Foke menghasilkan 58.511 kali, dengan berita ”Inilah ’Positifnya’ Jokowi di Mata Foke”.

”Fokoke Jokowi”

Jelang hari-H pencoblosan, ada satu tulisan unik bernada humor yang mengatrol pembicaraan positif mengenai Jokowi. Tulisan itu remeh-temeh dan tidak didesain untuk kepentingan kampanye serius, hanya berupa kelakar. Judulnya, ”Baru dapat kabar, Jokowi akhirnya berkoalisi dgn Foke. Namanya Fokoke Jokowi”.

Humor itu ternyata menjadi titik tertinggi untuk meroketkan brand Jokowi dengan total pembicaraan di media sosial naik tajam dari 51.727 menjadi 315.920 kali. Pada hari yang sama, brand Foke juga menanjak, dari 30.458 menjadi 128.561 kali dengan dipicu berita ”7 Janji Foke”.

”Fokoke Jokowi” adalah contoh pengolahan slogan yang kreatif, yang pada malam sebelum pencobloson seolah bergerak menjadi ribuan pasukan yang menghampiri para calon pencoblos via Twitter, Facebook, blog, pesan singkat SMS, juga pesan Blackberry Messenger (BBM). Slogan itu telah menjadi viral marketing, pemasaran gratis yang menyebar bak virus online.

Ikon lain yang berhasil menjadi duta media sosial melawan Foke adalah gambar dengan teks nyentil, ”Jakarta will be OK without F”. Slogan ringan dan menggelitik ini hampir tak terjadi pada kubu Foke.

Isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) yang bergulir dominan, untuk kelas menengah di perkotaan, ternyata tidak didistribusikan sebagai virus online.

Dengan menggunakan tools atau peralatan analisis lain, bisa dilacak percakapan Foke sebenarnya bukan kalah populer. Hanya saja, sentimen positif lebih lari ke percakapan Jokowi. Hal ini bisa dilihat di socialmention.com, salah satu laman web yang menganalisis kata kunci di berbagai situs jejaring sosial.

Di Social Mention, brand Jokowi memiliki kekuatan 26 persen, sedangkan Foke 21 persen. Kekuatan ini adalah angka unik dari socialmention.com yang diukur berdasarkan jumlah diskusi terhadap brand di media sosial.

Perbandingan sentimen positif terhadap sentimen negatif pada kubu Jokowi adalah 8:1, sedangkan untuk Foke 2:1. Tampak bahwa kubu Jokowi diuntungkan dengan sentimen positif ini.

Unik juga untuk dicatat, brand Jokowi secara konsisten frekuensinya lebih sering dibicarakan dibandingkan dengan Foke, yaitu rata-rata tiap 28 detik sekali untuk Jokowi dan 1 menit sekali untuk Foke.

Howsociable.com menguatkan pernyataan itu dengan memberi skor magnitudo untuk percakapan Jokowi sebesar 6,4, sedangkan Foke 6,1.

Jokowi unggul di semua situs jejaring sosial, misalnya di Twitter, Facebook, Youtube, Google plus, Tumblr, dan Yfrog.

Partisipasi kelas menengah

Analis pemasaran internet yang juga CEO Virtual Consulting, Nukman Luthfie, memaparkan, kampanye di media sosial dalam Pilkada DKI Jakarta merupakan contoh paling bagus untuk melihat bagaimana media sosial bekerja.

”Jakarta adalah pusat penggunaan media sosial di Indonesia, pengguna Twitter di Jakarta paling banyak, akibatnya pembicaraan Pilkada DKI di Twitter ramai,” katanya.

Kampanye di media sosial telah menjadi perang terbuka bagi para pendukung. Bahkan, perang itu juga melibatkan orang luar daerah mengingat Jokowi dan Ahok berasal dari luar daerah. Uniknya, justru latar belakang calon yang luas itu memicu penyebaran pembicaraan hingga luar Jakarta, mereka ikut membangun pencitraan untuk kubu Jokowi-Ahok.

”Orang-orang yang tadinya tidak antusias menjadi antusias membahas Pilkada Jakarta. Perbincangan di kelas menengah, terutama di Twitter, menjadi kencang,” kata Nukman.

Mereka lebih memilih perang lewat Twitter, bukan lewat Facebook. Perang ”140 karakter” lewat Twitter kini lebih disukai masyarakat perkotaan dibandingkan dengan di Facebook.

Perilaku ini khas berasal dari generasi melek Twitter. Dengan demikian, mereka ini adalah generasi baru yang memasuki ranah politik. ”Inilah awal dari partisipasi masyarakat kelas menengah di bidang politik,” kata Nukman.

Lalu, mengapa Jokowi dalam percaturan media sosial unggul dibandingkan dengan Foke?

”Jokowi muncul karena perlawanan, orang sudah capai dengan wajah lama. Foke sudah 35 tahun di pemerintahan Jakarta,” kata Nukman. Terlebih lagi, Jokowi ternyata lebih dekat dan lebih ramah dengan blogger dan pengguna Twitter.

Bukan berarti kubu Foke tak mengerahkan kekuatan media sosial. Kata Nukman, kubu Foke justru merekrut orang-orang profesional yang hidupnya memang berasal dari jualan kampanye di media sosial. Sebaliknya, kubu Jokowi lebih mengandalkan sukarelawan, bahkan banyak di antaranya tak dibayar.

Hal menarik lain dalam perang media sosial, pada putaran kedua media sosial lebih banyak digunakan sebagai black campaign.

”Jika pada putaran pertama lebih ke perang program, pada putaran kedua ini digunakan untuk kampanye hitam, saling menjatuhkan satu sama lainnya,” kata Nukman.

Beberapa kampanye hitam itu ditengarai berhasil mendongkrak perolehan suara Foke, terutama dari masyarakat kalangan bawah. Hanya saja, Jokowi akhirnya memenangi pertandingan ini karena faktor orang-orang Jakarta yang ingin melihat perubahan.

Pantas diapresiasi

Satu hal yang pantas diapresiasi dari perang 140 karakter ini, kata Nukman, adalah meskipun pertengkaran dan perselisihan pendapat tinggi di tingkat media sosial, di dunia nyata tak pecah pertikaian.

”Calon petahana juga fair dalam menanggapi hasil perhitungan cepat. Dari kubu yang menang sementara versi hitung cepat juga tidak arogan menghina. Tim sukses juga tidak saling berantem, inilah contoh penggunaan media sosial yang baik untuk daerah lain,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Ignatius Haryanto memiliki penilaian senada. Menurut dia, kedua kubu sama-sama menggunakan media sosial dengan intens. Kedua pihak menyadari media sosial sangat membantu dalam hal pembentukan citra para kandidat, menyampaikan pesan kampanye, serta visi-misi-program para kandidat.

”Sejak awal kita melihat para simpatisan Jokowi, yang merupakan paduan dari tim yang dibentuk tim sukses serta para sukarelawan, ikut berkontribusi pada pembentukan citra positif Jokowi-Ahok,” kata Haryanto.

Pertarungan/kampanye tidak hanya melalui baliho dan koran, tetapi juga sampai ke videoklip yang dibuat oleh dua kubu. Kalau mau membandingkan dari sisi video klip, menurut Haryanto, kubu Jokowi-Ahok menawarkan kesegaran dalam penyajian, menyasar anak muda, dan juga massa mengambang.

”Sementara kalau melihat video klip resmi yang dipergunakan Foke-Nara, kelihatan menyasar kelompok menengah bawah dan menonjolkan iming-iming atau janji yang selama ini diklaim sebagai prestasi Foke,” kata Haryanto.

Soal isu SARA, dia juga meyakini bahwa isu tersebut tidak efektif walaupun sudah sedemikian rupa mendiskreditkan Jokowi-Ahok.

”Hingga Kamis (20/9/2012) pagi pun, seorang teman masih menemukan selebaran yang ditumpuk di wilayah Pasar Minggu dan itu tak menggoyahkan perilaku pemilih. Jadi, memang isu SARA tidak menjadi faktor utama. Pendekatan kuno untuk mendiskreditkan begini sudah tak lagi atau tidak akan ’dimakan’ oleh masyarakat umum walau belum seluruhnya. Jika memang ada kedewasaan masyarakat dalam menyikapi hal ini, kampanye hitam apa pun tak kena,” kata Haryanto.

Belajar dari Pilkada DKI ini, terkait dengan pengaturan media oleh negara, sebaiknya hanya dilakukan pada media massa mainstream dan membiarkan dinamika dalam media sosial berjalan dengan sendirinya.

”Pesan negatif yang ada ternyata langsung direspons oleh pesan-pesan positif dari kubu lainnya.
Masyarakat sudah makin dewasa,” ujar Haryanto.

Bandingkan video berikut ini





SUMBER

Minggu, 10 Juni 2012

Sisa Kenangan Itu Bernama PT ARUN Blang Lancang



...SISA liuk lidah api di cerobong “train,” kilang, gas alam cair Blang Lancang, Lhokseumawe, Aceh Utara, itu tak lagi menyiramkan benderang cahaya di pucuk langit Rancung, Batu Phat dan Paloh Lada. Sejak dua tahun lalu, lima dari enam pucuk api itu, telah memaklumatkan hari kematiannya. Dan telah raib pula tari kegelian dari kelebat liar jelaga cahaya, yang tiap kali angin laut mengibas ujung lidahnya, Blang Lancang bermandikan sejuta kerlap kerlip bagaikan di sebuah negeri kunang-kunang.

Benderang Blang Lancang adalah benderang negeri di tanah bertuah. Benderang yang selalu meleleh di ingatan Azhari, pensiunan karyawan pabrik gas itu, ketika mengingat kembali jejak tetirahnya, tigapuluh tahun lalu, pada saat meniti karir di PT. Arun NGL dan menutup masa tugasnya yang panjang itu, enam tahun lalu, sebagai “section head,” kepala seksi.

Blang Lancang dengan liuk lidah apinya yang mempesona itu, seperti dikatakan Azhari dengan suara tercekat, ketika membuka hikayat kenangannya kepada kami disebuah sudut Cunda, adalah berlaganya kontroversi simbol status negeri di awan itu. Negeri yang dikutuk dan disanjung anak Rancung, Paloh Lada dan Batuphat karena tak pernah bisa menggapainya.

Negeri yang dikatakan Azhari selalu mengundang rindu dan makian yang saking menggemaskannya sering mengambuhkan penyakit “home sick”nya hingga berbinar keubun-ubun.

Penyakit “home sick” yang mengelupaskan sekat lupa “vertigo”nya untuk kemudian, tertatih-tatih mengembalikan detail ingatannya dalam “buku” kenangan. Dan salah satu isi jalan kenangan yang paling berkesan itu, yang ia ingat secara sempurna, ketika harus memulai ritual “shift” tiga di ujung penggalan malam dan selalu ia awali dengan sepenggal doa pembuka.

Doa tengadah ke lenggok api di langit Blang Lancang yang banjar enam lidahnya bergerak secara simetris. Lidah api di pucuk cerobong asap yang mengaum bersama enam turbin pembangkit berdaya 120 megawat yang menenggelamkan bait pendek doa tengadahnya.

“Tengadah,” yang ia katakan berulang kali dengan kalimat puitis, “sebagai rukun pembuka kerja.” Rukun yang menyertai doa langitnya ketika membasuh pucuk api Blang Lancang dengan syahdu. Pucuk api yang meliukkan gerak cepat berkelok yang bagaikan langkah memutar tarian seudati milik Syech Lah Geunta maupun Syeh Rasyid. Liuk ketika angin laut menggelitik yang terkadang, membuat ujung apinya rebah dan menjulurkan jejak cahaya hingga jauh ke Paloh Lada dan Batu Phat, dua desa tetangganya.

Blang Lancang, kini, ketika kami “mudik,” awal pekan lalu, hanya menyisakan satu, dari enam, lidah api. Lidah api yang meliuk lamban, bagaikan penari di usia senja yang merentang gerak tertatih-tatih, di tengah auman kilang gaek yang meringis ketika diberitahu akan menerima “eska” pensiun dua tahun lagi.

Kilang uzur yang ketika kami datang sedang merintih dan menjalarkan auman bersuara parau dan tertatih-tatih untuk menyelesaikan masakan gas alam cair untuk memenuhi janji kontrak pengapalan ke Busan, Korea Selatan.

***


Ya, itulah sejumput kisah sisa kilang tua generasi pertama. Dan itu pula sisa peninggalan kilang yang ketika dibangun tahun 1976 dicatatkan sebagai yang paling moderen hasil temuan “revolusioner” teknologi minyak dan gas. Teknologi kilang yang dibangun dengan rekayasa konstruksi oleh perusahaan ternama dunia “Bechtel,” dan disanjung, kala itu, sebagai terobosan diversifikasi energi untuk memadatkan gas alam guna memisahkan unsur “condensate,” sejenis minyak lainnya, yang pengapalannya di ekspor ke Selandia Baru, serta elpiji, yang dijual ke pasar domestik, sebagai produk ikutannya.

Untuk mengingat tonggak sejarah penemuan diversifikasi bahan bakar fosil ini menjadi produk gas alam cair, Blang Lancang tidak hanya dikukuhkan sebagai “pabrik gas terbesar di dunia,” mengalahkan kilang gas serupa di Alzajair, tetapi juga menerima puja dan puji sebagai kilang penghasil gas paling bersih emisi karbonnya.

Itulah sepotong cerita masa lalu kilang yang dibangun dengan komposisi kepemilikan saham antara PT. Pertamina, pemegang kontrak karya (55 persen), Mobil Oil, kontraktor sekaligus operator ladang gas (kini, setelah di akusisi, menjadi Exxon Mobil (30 persen) dan JILCO, mewakili pembeli Jepang dan Korea Selatan (15 persen).

Dan itu pula yang membawa kenangan panjang bagi “euforia” teknologi ketika gas alam cair bisa dipadatkan untuk kemudian dikapalkan dengan tanker khusus dan di ekspor ke terminal Osaka maupun Kobe di Jepang atau Busan di Korea Selatan untuk kemudian disalurkan sebagai energi ke perusahaan pembangkit listrik negara tersebut.

Temuan teknologi gas alam cair ini pula yang mendorong pemerintah membangun dua pabrik pupuk di desa tetangga Blang Lancang, Kruenggeukeuh. PT Pupuk Iskandarmuda dan PT Pupuk Asean Aceh Fertilizer serta sebuah pabrik kertas PT. Kertas Kraft Aceh.

Kita tidak hanya mencatat temuan tercanggih dari produk minyak dan gas bumi, kala itu, yang mengubah Blang Lancang maupun Kruenggeukeuh sebagai kawasan seperti negeri antah berantah untuk kemudian di “syahadat”kan sebagai kawasan bernama zona industri.

Tetapi juga, Blang Lancang, mengalami transformasi kultural yang dahsyat dengan masyarakat plural yang mengedapankan etos kerja dan mengabaikan “domestic social cultural.” Blang Lancang mengalami penyakit “megalomania” yang menjadikannya gugup dari hembusan napas budaya “syariat.” Blang Lancang mengalami “geger budaya” dan tercampak ke dalam barisan “zona western” yang rikuh dan mengingatkan kita kepada kehidupan di ladang dan kilang di Texas sana dengan kultur yang acuh.

Blang Lancang, Batu Phat ataupun Rancung, ketika itu memang sebuah zona “western.” Zona orang dengan “style” celana “jeans,” sepatu “booth,” dan “helm” putih bertuliskan “bechtel” ataupun “mobil” dan bercas-cis- cus “England Americo” sembari menggasak “steak” dan “burger” di dapur “Indocater,” yang kemudian menularkan gayanya bak penyakit “sampar” ke masyarakat di kampung-kampung marjinal di seputar pabrik.

***

Blang Lancang, kini, ketika kami datang bertandang, awal pekan lalu, sedang menjalani hidup senja, di usia tigapuluh tujuh tahun. Kilang uzur yang mengenang masa kejayaannya ketika mencatatkan puncak produksinya dengan mengapalkan sebanyak 224 gas alam cair ke Kobe, Osaka dan Busan.

Blang Lancang, kini, adalah sebuah pabrik gas masa lalu.

Dan ketika kami singgah di sana, di sebuah malam temaram, di penanggalan awal Januari lalu, gerimis sedang membasuh kawasan itu. Dari arah Batu Phat, ketika kami menengadah ke langit timurnya, perasaan getir menyengat di selangkang memori. Perasaan getir yang datang menggelitik kepiluan hati kami kala menyaksikan cahaya lidah apinya meliuk lunglai dan sesekali berkelebat dipeluk angin timur.

Lidah api yang menari sendirian tanpa ditemani lagi lima cerobong asap tetangganya yang sudah lama mampus. Sisa lidah api yang hanya bersungut ketika mengibaskan jilatan cahaya “peusijuek”nya ke langit kelam.

Malam itu, di sebuah kedai kopi di pasar Batu Phat, kami tak melihat lagi gairah Blang Lancang dengan kesibukan pekerja “shift” dua dan tiganya berjalan dipelukan malam dan melarikan truk serta pikap berlabel PTA ke arah Rancung. Juga telah raib pula cahaya benderang yang selama puluhan tahun membasuh langit Paloh Lada, Batu Phat maupun Blang Lancang sendiri. Semuanya telah tamat. Telah usai.

Dan ketika seruputan kopi terakhir kami terasa pahit, seorang kawan mendadak berceloteh dengan bibir bergetar menahan gumam.“Sudah usai lima pemakaman di Blang Lancang tanpa melantunkan doa samadiah berjamaah ........”

Kawan itu, Rusdi, anak Paloh Lada, yang dulu pernah menjadi “orang penting” dan mendapat jatah sebagai “stringer” mengurus community development di sana. Ia tak mampu melanjutkan kalimatnya.

Kerongkongannya tercekat ketika bianglala kenangan Blang Lancang singgah dalam ingatannya. BlangLancang tahun delapanpuluhan. Blang Lancang yang bagaikan “enklaf” di sebuah negeri siluman, negeri antah berantah, bertabur cahaya dan tak pernah digenggam sebagai milik anak “nanggroe” sebagai bagian tanah “ware’eh” pusaka indatunya.

“Dulu kami hidup bagaikan di Texas. Semburan cahaya benderang sepanjang tahun dan kesibukan pekerja pabrik hilir mudik dengan mobil bertulis PTA sebagai simbol status sosial para pekerja. Dan kami sendiri tidak pernah sebagai tuan di sini”

Rusli pantas mengenang masa keemasan pabrik gas alam cair bernama PT. Arun NGL itu dengan dada sesak. Ketika pabrik gas yang usianya tersisa dua tahun lagi. Pabrik gas yang sering diocehkan entah milik siapa di tanah milik kakek moyangnya dan limpahan dollarnya berserak tanpa pernah memberikan kesejahteraan anak Blang Lancang atau Batu Phat yang terusir ke pucuk Mbang sebagai kasta “paria” atas nama relokasi.

Kasta “paria” yang di “rodi” siklus kehidupannya dari nelayan dan petambak “neuheun” menjadi petani sayur dengan penyuluh yang didatangkan dari negeri “bule” untuk kemudian bubar tanpa pernah mendapat ujung cerita yang “happy ending.”

Dan anak-anak Blang Lancang, Rancung maupun Batu Phat, kini, usai “fiesta” gas alam itu setelah perut buminya kempis, melata menjadi penganggur, dan bagian lainnya terlunta-lunta mengikis lumut “rasueki” di seputar tanah bertuah milik “ayah-moyangnya.” Tanah bertuah yang ketika “pipa line”nya menyisakan tetesan terakhir mendapat jatah pengembalian bagi hasil sebesar 70 persen.

“Apalah arti pembagian tujuh puluh persen distribusi pendapatan setelah jumlah pengapalannya 22 kali setahun. Bukan 224 pengapalan. Inilah zaman, ketika tipu Aceh tidak lagi menjadi milik anak negeri,” ujar seoeang pengamat di Banda Aceh. Tipu menipu yang memanipulasi angka “cost recovery” yang arus kasnya pembiayaannya, “operational cost” berada diselangkah celana bule Amerika.

Itulah penggalan kisah anak Blang Lancang dan Rancung maupun Batu Phat yang awalnya mendapat ganti rugi pembebasan tanah dengan ikatan duit berlimpah menyembul di kantong dan membeli “Honda CB” sampai ke Medan.

Anak Blang Lancang yang kemudiannya, setelah hamburan duitnya berceceran membeli kemiskinan, kembali menjadi “buruh” dengan panggilan keren “bang bechtel” dan di hari-hari kami bertandang masih terbata-bata menceritakan ceceran kisah “sukses” duit ganti rugi yang dibelanjakan kakek dan ayahnya untuk membasuh daki kemiskinan. Sabun daki kemiskinan Honda CB, Kijang pikap kotak sabun dan rumah di Pulaubrayan serta mencampakkan keranjang “meuge” berbau anyir “engkot muloh dan udang wat.

Itulah sebuah ironi pengajaran masa lalu yang yang tak pernah kembali untuk kemudian ingin ditebus anak cucu mereka dengan menuntut balik tanah ulayat milik “indatu”nya dengan berkemah di jalur pipa.

***

2014, Blang Lancang, kilang yang pernah menyandang predikat “Terbesar di Dunia” itu akan tutup buku bersamaan dengan berakhirnya kontrak ekspor gasnya dengan Korea Selatan. Sisa kontrak yang tersisa sekitar 40-an pengapalan akan dipenuhi sepanjang dua tahun ke depan.

Untuk tahun ini, menurut manajemen PT Arun, ekspor gas ke Busan, Korsel tidak akan lebih dari 22 kapal, yang berarti sama dengan ekspor tahun 2011. Sedangkan ekspor gas ke Kobe dan Osaka telah tamat tahun 2010 lalu yang sekaligus pula memensiunkan lima train Blang Lancang.

Blang Lancang, usai “fiesta” panjang dollar berbau amis yang mengalir ke pundi-pundi APBN selama tiga dekade lebih, tahun 2014, menyisakan baris pertanyaan yang belum seluruhnya terjawab tuntas.

Pertanyaan menggelitik tentang pepatah plesetan, “habis gas besi dibangkaikan.” Pertanyaan yang juga membangkitkan koreng di luka tak berparut sepanjang tanah bekas “neuhun” milik anak nanggroe yang ditendang domisilinya ke bukit Mbang.

Akan jadi rongsokankah kilang, turbin gas pembangkit 120 megawat, pelabuhan, dan tanki serta pipa-pipa gas milik Blang Lancang itu? Akankah raib nilai buku kekayaan, hasil audit internal Pertamina, Rp. 6,5 triliun itu dari tanah Rancung, Batu Phat dan Blang Lancang?

Itulah pertanyaan paling mengusik sepanjang hari-hari ditahun terakhir kehidupan kilang gas itu. Pertanyaan akan dicampakkan kemana onggokan “besi tua” yang berkahnya untuk negeri ini telah dilumat secara bancakan antara pemodal, spekulan dan pemerintah pusat yang mengatasnamakan kepentingan fiskal.

Kepentingan pembangunan yang wujudnya tak pernah dinikmati anak-anak Blang Lancang, Batu Phat, Paloh Lada hingga melingkar, nun jauh ke sana, ke Syamtalira Aron maupun Syamtalira Bayu yang api “point A” maupun “point B”nya telah padam. Dan kantor Exxon Mobil telah dialih pinjamkan ke Pemda Aceh Utara atas kemura-hatian PT. Pertamina.

Di ujung tahun kemarin terdengar skenario baru tentang nasib akhir Blang Lancang. Skenario untuk memungsikan sebagai terminal gas yang bahan bakunya didatangkan dari Bontang dan Tangguh. Terminal berdurasi investasi 175 juta dollar yang akan mengalirkan gasnya melalui pipa sepanjang 250 kilometer ke Medan dan akan menghabiskan belanja mendekati angka 300 juta dollar.

Terminal yang kelak akan membangkitkan gairah birahi PT PIM mengejar kapasitas penuh produksi. Terminal yang juga menunda pembangkaian PT AAF menjadi potongan besi tua. Dan juga menghidupkan harapan kehidupan bagi PT KKA menjalani ritual sebagai sebuah pabrik kraft peling prestiseus.

Kita belum tak tahu secara persis apakah janji mengubah Blang Lancang menjadi terminal gas ini mimpi halusinasi atau ekstase “cet langet” model baru. Sebab, sebelum godaan menjadikan Blang Lancang sebagai terminal gas, sudah terbit sebuah Perpres tentang penunjukan Belawan sebagai terminal suplai untuk kawasan Sumatera bagian Utara.

Kita mengingatkan dengan keras, kepada siapapun dia, jangan paksa lagi Aceh mencabut pedang atas nama “perjuangan” untuk menegakkan harga dirinya sebagai “bangsa” bermartabat untuk merebut muntahan janji keadilan. Jangan lagi bangun jalan tak berujung yang ketika menggapainya harus di aplaus dengan sorak-sorai perjuangan dan harus direbut dengan salakan bedil dan banyak jirat yang kuburnya tak bernisan.

Blang Lancang ketika kami memunggunginya di pekan kedua Januari lalu, usai menyantap nasih gurih Batu Phat, menunduk kalem di ujung dhuha yang langit bewarna kelabu, “reudok.” Awan hitam yang berlari digelitik taifun kecil. Hujan, entah tumpah atau tidak, kami tidak lagi pernah tahu. Tapi, yang kami tahu, setelah beringsut dari tanah penuh janji itu, proposal terminal Blang Lancang masih bergantung di awan hitam langit negeri “perjuangan” ini. -Atjeh post.



Minggu, 20 Mei 2012

Kita, Pendidikan, Skripshit, Dan Pengabdian

Saya harap menyiapkan secangkir kopi hangat yang nikmat atau teh hangat dan juga cemilan sembari menikmati artikel ini ^^



Tugas akhir (TA) atau lebih dikenal dengan istilah skripsi, thesis atau desertasi atau apapun itu, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari jenjang pendidikan S1 hingga S3. Tapi mau dikemanakan tugas akhir itu?

Iseng-iseng saya menelusuri tiap-tiap perpustakaan yang ada di beberapa jurusan universitas yang ada di sumatera utara Medan sebagai sampel penelitian kecil-kecilan ini. Maka pemandangan pertama yang saya jumpai adalah anak-anak mahasiswa yang sibuk mencari literatur untuk kebutuhan bahan tugas akhirnya dan tumpukan tugas akhir yang sudah dijilid yang dibiarkan menggunung dan tertutupi oleh debu (jika sering dijadikan bahan literatur, maka tugas akhir itu tetap kelihatan bersih). Terlepas oleh stigma plagiat, 

Selidik punya selidik, dari tahun ketahun ada ribuan lulusan yang diwisuda oleh Universitas Sumatera Utara (USU) seperti yang diberitakan di sini.

Wow, ribuan kepala yang diwisuda dari berbagai jenjang program seperti dari diploma, sarjana, pasca sarjana dan doktoral. untuk 1 universitas sebesar USU. Maka ada ribuan TA yang juga akan "digudangkan" juga dong, walaupun hanya sebagian sangat kecil pengabdian dari TA tersebut yang berguna bagi orang lain.

Bagaimana dengan jumlah pengeluaran untuk biaya pendidikan perkepala hanya untuk menggudangkan TA Anda ? Variasi antara 10 hingga ratusan juta rupiah tergantung jenjang pendidikan yang di ambil dan status perguruan tinggi apakah negeri atau milik swasta. Yang pastinya jumlah yang dibutuhkan hanya untuk sekolah di perguruan tinggi saat ini hingga mencapai diatas 10 jutaan Rupiah hingga diwisuda.

Belum lagi dengan dinamika dari satu kepala yang sedang kuliah juga membuat kepala yang lain juga ikutan kena getahnya seperti orang tua kita yang makin pusing memikirkan pinjaman uang karena tingginya biaya kuliah, dosen yang makin killer karena sudah lama kehilangan esensi pendidikan di kamus pendidikan di kepalanya, dan segenap pihak stakeholder yang makin merunyamkan sistem pendidikan karena motifnya sudah material UUD (ujung-ujungnya duit) diatas kepentingan mencerdaskan anak bangsa. Maka katastropi pendidikan di Indonesia terlihat jelas di perguruan tinggi di Medan hanya dengan kenyataan di depan mata bahwa ada tumpukan TA yang berdebu yang makin menggunung yang tinggal dibakar saja karena sudah tidak cukup untuk disimpan di gudang penyimpanan TA. Seperti inikah nasib akhir TA lulusan perguruan tinggi?

Tidak sedikit pengorbanan para mahasiswa semester capek ini menguras tenaga, waktu, pemikiran dan uang yang pinjam sana sini untuk  menyelesaikan penelitian TA mereka. Belum lagi mereka ini berhadapan dengan karakteristik dosen-dosen pembimbing yang punya warnanya masing-masing dan administrasi yang makin centang prenang dengan adanya uang pelicin layaknya birokrasi di jajaran pelayanan publik.



Semakin banyak karya para lulusan seharusnya makin membuat Indonesia makin maju kesejahteraannya karena atas tebakan logika sederhana akan menunjukkan adanya korelasi tersebut. Tapi kenyataan berkata lain, malah tidak menunjukkan korelasi itu tapi menimbulkan masalah baru yang bernama : PENGANGGURAN TERDIDIK ! Kasihan !

Idealnya, Tugas Akhir adalah bentuk representatif para terdidik ini untuk terjun ke masyarakat untuk mengabdi agar Indonesia makin sejahtera. USU saja memiliki tri darma pendidikan untuk menunjukkan visi mereka bahwa para lulusannya adalah terbaik bagi masyarakat awam sekitarnya. Sialnya, peran perguruan tinggi hanya sebatas meluluskan mahasiswanya dengan setumpuk tugas akhir kuliah. Setelah lulusan diwisuda, berfoto ria bersama teman-teman, orang tua dan sanak keluarga, mengadakan sukuran atau pesta maka habislah sudah tugas besar perguruan tinggi. Bagaimana dengan kelanjutan hidup para lulusan ini ? "Emang gue pikirin? Cari sendirilah ! " Kira-kira begitulah lepas tangannya perguruan tinggi dibalik brand nama  besar perguruan tinggi tersebut.  Brand nama perguruan tinggi hanya sebagai pemanis di sertifikat lulus kuliah saja. Tidak lebih dari yang diekspektasikan. Begitu juga dengan TA yang dibiarkan menumpuk yang makin dimakan usia, debu, bahkan rayap. Miris !

Bagaimana solusinya ? Saya meng-googling sistem pendidikan Finlandia dari beberapa blogger dan artikel sebagai bentuk contoh pendidikan terbaik di semua tatanan pendidikannya mulai dari sejak SD hingga perguruan tinggi (klik di sini dan di sini) . Kita perlu belajar tentang esensi Tugas Akhir kuliah untuk membentuk watak sebagai pembelajar bahwa saya, Anda, beserta para lulusan yang lain sedang dihadapkan oleh problematika kemasyarakatan. Cukuplah pernyataan ini sebagai renungan: " Apakah karya penelitian tugas akhir ini akan berguna bagi masyarakat sebagai bentuk pengabdian? Atau akan berakhir begitu saja terdiam dan dibiarkan berdebu bahkan akan digudangkan ? "

Jangan sampai keluar stigma ekstrim bahwa ketimbang menghabiskan uang melanjutkan pendidikan yang tidak jelas di negeri ini dan TA nya dibiarkan teronggok tak berguna, lebih baik investasikan uangnya ke emas dan buka usaha kecil-kecilan. Masalah keilmuan, khan ada oom Google yang serba tahu. hehehehehehehe



Ngobrol dengan saya yuk :)

Minggu, 22 April 2012

Power Of Loving Mom



Pagi itu, seorang pria turun dari mobil mewahnya. Ia bermaksud untuk memberi hadiah kado kepada ibunya di kompleks pertokoan mall. Besok adalah hari Ibu, dan bermaksud untuk membeli lalu mengirimkan bingkisan kado tersebut lewat pos untuk ibu dikampungnya. Seorang ibu yang pernah ia tinggalkan demi mengejar apa yang di impikan. Harta, jabatan dan kesuksesan lainnya di kota besar tempat ia mengejar impian itu semua. Langka-langkah pria itu berhenti di depan sebuah toko bung. Ia melihat seorang gadis cantik. Ternyata, gadis itu adalah adik tingkat semasa mengenyam pendidikan kuliah dulu. Gadis itu sedang memandangi lesu rangkaian bunga-bunga indah yang terpajang di etalase sebuah toko bunga. Matanya terlihat jelas tengah berkaca-kaca, air matanya hendak meleleh, seperti akan menangis. 

Setelah menyapa gadis itu, bercerita-cerita untuk saling mengingat kenangan masa kuliah dulu, pria itu kemudian bertanya" Ada apa denganmu?  Ada apa dengan bunga-bunga itu? " 

Aku ingin memberi salah satu rangkaian bunga mawar ini untuk ibu saya," Gadis itu melanjutkan " Seumur hidup, saya belum pernah memberikan bunga seindah ini untuk ibu."

"Kenapa tak dibeli saja ? Ini bagus kok, indah lagi."  sambung pria tersebut sambil turut mengamati salah satu karangan bunga.

"Uang saya tidak cukup." 

"Ya sudah, pilihlah salah satu, aku yang akan membayarnya." Pria itu menawarkan diri sambil tersenyum.

Akhirnya gadis itu mengambil salah satu karangan bunga. Dengan ditemani sang pria, gadis itu lalu menuju kasir. Pria itu yang menawarkan diri mengantarkan gadis itu pulang kerumah untuk memberikan karangan bunga mawar itu kepada ibunya. Gadis itu pun bersedia. 

Dua orang itu kemudian berlalu menggunak mobil menuju tempat yang ditujukan oleh si gadis. Hati pria itu terperanjat ketika gadis itu mengajaknya ke sebuah kompleks pemakaman umum.

Setelah memarkirkan mobil, pria itu lalu mengikuti langkah-langkah si gadis. Dengan sangat terharu gadis itu meletakkan karangan bunga itu sambil memanjatkan doa ke makam ibunya. Seorang ibu yang belum pernah dilihat oleh gadis itu seumur hidupnya. Ibu itu meninggal saat melahirkan gadis itu. 

Melihat kejadian itu, setelah mengantarkan gadis itu pulang ke rumah, sang pria membatalkan niatnya untuk membeli dan mengirimkan kado bagi ibunya. 

Siang itu juga, pemuda sukses itu langsung memacu mobilnya..pulang ke kampungnya...untuk melihat wajah ibu yang dia rindukan selama ini...bersujud di bawah kakinya dan memeluk erat tubuh dan hati lembutnya..

____

Untuk para sahabat..terutama calon ibu, para ibu, dan yang hendak menuju pernikahan....^^ Negara ini ditentukan oleh ibu / wanita yang mendidik dengan kasih sayang kepada anak-anaknya. 

 

Inspiring Man : Jamil Azzaini Sukses Mulia Bersama Komunitas TDA Medan

Minggu, 22 April 2012

Medan menjadi kota yang mendapat kesempatan untuk mengadakan acara seminar dari Pak Jamil Azzaini. Sebagai seorang Inspirator Sukses Mulia, Pak Jamil Azzaini ( follow @JamilAzzaini ) adalah pembicara seminar yang sangat ditunggu-tunggu oleh kebanyakan pihak baik itu dari korporat, pengusaha, pelajar/mahasiswa, tenaga pengajar, karyawan, dan lain-lain. Hal ini terbukti dari antusiasme orang-orang yang mengikuti acara-acara yang dihadiri oleh beliau. 

Nah, pada kesempatan kali ini, kebetulan pada momen Hari Kartini, TDA Medan mengadakan Forum Bisnis yang dihadiri oleh berbagai kalangan dengan pemateri Pak Jamil Azzaini. Desa-Desa Resto menjadi tempat acara berlangsung mulai dari pukul 8 pagi hingga pukul 12 siang. 

Dengan judul materi DNA Sukses Mulia, saya akan berbagi apa-apa saja poin penting bagi Anda untuk memperkaya kualitas hidup seperti yang saya kutip dari presentasi Pak Jamil Azzaini di acara tersebut :) 

1. Expert x Aset x Energi Positif (disingkat Epos)

Impian setiap manusia adalah jadi orang kaya, masuk surga lagi :) Nah, bagaimana rumusannya? Ada tiga hal yang harus dipenuhi :
a. Jika ingin uang mengalir mengikuti Anda, Jadilah Expert di bidang yang Anda Cintai. Mind set-kan pikiran dan tindakan untuk tak sekedar baik tapi menjadi yang TERBAIK di bidang pekerjaan yang Anda geluti .

b. Ternyata, menjadi expert bertahun-tahun tapi kok gak kaya kaya ya ? Nah, belajar lah kecerdasan finansial untuk memperbesar Aset Anda :) 

c. Apa jadinya kalau sudah expert menjadi pengusaha, asetnya sudah dimana-mana , tapi suka menjatuhkan orang lain, suka menjilat atasan agar cepat naik jabatan, atau hal-hal negatif lainnya ? Akhir dari itu semua tentu berefek negatif bagi diri sendiri maupun orang lain. Di sini lah energi positif memainkan peran utama kualitas hidup. Contoh energi positif seperti : Banyak bersedeqah, membantu orang lain yang kesusahan tanpa mengharapkan imbalan, memuliakan kedua orang tua, ........ (silakan Anda tambahkan hal -hal positif lainnya) ..........

Begitulah hidup, kaya raya, memiliki jabatan paling strategis akan sia-sia saja jika tak dibarengi oleh karakter positif : ) Makanya dalam presentasi berikutnya beliau memberikan rumusan motivasi :

2. To Be x To Have x Valensi 

a. To Be adalah keinginan kita untuk menjadi, yang dikaitkan dengan proses untuk mengejar prestasi dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Contoh dari To Be misalnya keinginan untuk menjadi pengusaha sukses berkelas internasional atau keinginan menjadi manajer terbaik di perusahaan tempat bekerja. 
  
b. To Have adalah keinginan kita untuk memiliki sesuatu, yang dikaitkan dengan proses meraih benda-benda materi atau hasil akhir dari sebuah usaha, sebagai bentuk dorongan dari nafsu duniawinya. Contoh dari To Have misalnya, keinginan untuk mendapatkan gaji, tunjangan, fasilitas, rumah, mobil, popularitas, status, pujian. 

c. Valensi adalah tingkat kualitas diri seseorang dalam mengarahkan hidupnya, yang dikaitkan dengan keseluruhan kapasitas yang ada dalam dirinya.  Contoh motivasi yang terkait dengan valensi misalnya, keinginan untuk menambah ilmu atau pengalaman, bekerja sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan, bekerja sebagai bentuk aktualisasi dirinya.

Rumus Motivasi = To Be x To Have x Valensi adalah benar, tetapi rumus itu cenderung berorientasi pada sukses jangka pendek bahkan menjauhkan Anda dari sukses jangka panjang. Selain itu, rumus tersebut juga bisa mencelakakan Anda dalam jangka panjang. Mari kita ajukan pertanyaan untuk masing-masing.  Apakah Anda yakin bila Anda memiliki To Be yang menantang Anda akan lebih bersemangat? Apakah Anda yakin bila Anda sangat menggebu dalam mengejar To Have Anda akan bahagia?  Apakah Anda yakin bila anda terus meningkatkan Valensi anda akan lebih berprestasi?  Saya yakin Anda pasti menjawab YA untu pertanyaan untuk To Be dan Valensi.  Tapi untuk pertanyaan To Have mungkin Anda ragu atau mungkin tidak yakin.

Beberapa contoh kasus seperti Melinda Dee dan Nazaruddin memberikan kita peringatan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki To Be dan Valensi yang tinggi, namun karena nilai To Have juga kelewat tinggi, maka jadilah orang-orang tersebut mengisi kolom di setiap media massa akan kasus pidana yang menimpa mereka.

Pada tingkat individu, kita bisa melihat para profesional yang berhasil menaiki tangga karir dengan cepat hingga sampai ke puncak karir, namun tidak lama kemudian berakhir sebagai pengangguran bahkan ada yang masuk ke penjara.  Beberapa karyawan Pertamina harus mendekam di penjara karena terbukti menyelundupkan minyak.  Para pejabat DPR juga  harus mendekam di penjara karena tergiur untuk meraih keuntungan material.

Itu semua buah dari mengedepankan To Have.  To Have yang tinggi memang bisa membawa kepada kesesatan.  Dia hanya terfokus untuk mendapatkan fasilitas, keuntungan materi semata, popularitas dan hal lain yang sifatnya jangka pendek.  Semua dilakukan boleh jadi dengan cara menjilat atasan, menginjak bawahan, menyikut rekan kerja, bahkan mungkin menghianati perusahaan.  To Have yang tak terkendali dapat merusak kehidupan seseorang dan bila dilakukan secara komunal akan merusak kehidupan suatu bangsa. Memang, To Have itu manusiawi, dan saya rasa hal itu diperbolehkan oleh agama manapun selama didapatkan dengan cara yang benar (halal), tapi yang perlu dijaga adalah agar jangan sampai To Have itu kita jadikan kemudi dalam perjalanan hidup dan karir kita. 

So? Bagaimana cara untuk meraih sukses jangka panjang ? 

Maka Rumusan Motivasi tersebut diperbarui menjadi :  Motivasi = To Be x Valensi x 1/To Have

Formulasi ini mengajarkan fokuskan diri Anda pada penyusunan To Be yang menantang dan peningkatan Valensi terus menerus dan abaikan To Have.

Secara sederhana, apabila kita menginginkan mempunyai rumah dan mobil mewah, maka jangan pikirkan rumah dan mobil mewahnya (To Have), tetapi pikirkan prestasi apa yang harus kita raih (To Be) serta bagaimana caranya kita dapat memiliki kemampuan (Valensi) untuk mewujudkan prestasi tersebut. Setelah itu, ketika Valensinya Anda sudah siap dan To Be Anda kemudian tercapai, maka rumah dan mobil mewah (To Have) juga pasti akan Anda dapatkan.  Pastikan Anda meraih sukses dengan rumusan motivasi sukses jangka panjang.  Maka kehidupan Anda lebih damai, tenteram dan dipenuhi keberkahan.  Keharuman nama Andapun akan selalu dikenang dari generasi ke generasi. Semoga 



Peserta yang hadir membludak :) Saya cuma kebagian meja terakhir

Saya Dan Rekan-Rekan TDA Medan Beserta Pak Jamil Azzaini (Tengah)  
Kunjungi Website Pak JaMil Azzaini :)