Minggu, 27 Mei 2012

Don't Call Me ! Text Only ...



Membuka toko online punya kiat tersendiri. Berikut beberapa fakta untuk Anda tentang judul di atas :

Fakta nyata yang saya temukan: 90% yang menelepon TIDAK MEMBELI.

Fakta kedua, saya menyisihkan banyak waktu untuk menerima dan menjawab telepon, minimal 5-15 menit sekali telepon, karena rata-rata pertanyaan berkembang.

Fakta ketiga, meskipun dengan pembicaraan telepon yang panjang soal barang ini itu, ketika selanjutnya di konfirmasi order, dan di beri nomor rekening, mereka tidak juga mentransfer,sehingga order saya batalkan.

Dibalik itu ada fakta bahwa : pelanggan yang melakukan order via SMS 90% langsung ok dan transfer. 90% yang order melalui shopping chart, langsung mentransfer juga.

Padahal semua yang ditanyakan sudah muncul dan ditampilkan dengan jelas di Halaman FAQ, dan Halaman Cara Pembelian.

Fakta di atas sering terjadi pada pemilik toko online. Sekarang, percaya atau tidak, saya serahkan kepada Anda.

Sumber

Senin, 21 Mei 2012

Kenali Hierarki Kepuasan Konsumen

gorea.co.uk


Setiap customer di dunia berharap ketika dia berbelanja sesuatu, dia bukan hanya mendapatkan produk yang berkualitas tinggi tetapi juga pelayanan yang baik. Pelayanan yang baik ini dapat dibentuk bila sang customer merasakan sebuah pengalaman berbelanja yang remarkable atau bermakna. Remarkable Experience ini dapat diciptakan bila customer service yang kita miliki sudah mempunyai mindset yang baik akan pentingnya service itu sendiri. Untuk dapat menciptakan mindset yang baik seorang customer service sudah harus paham akan tingkatan-tingkatan atau heirarki kepuasan customer. Saya disini membagi tingkat kepuasan menjadi 4, Basic, Expected, Desire and Unexpected (B-E-D-U).

BASIC
Basic adalah tingkatan dasar dalam mengukur kepuasan. Basic bermakna segala sesuatu yang sudah menjadi dasar agar seorang customer dapat puas akan service kita. Contohnya begini : Ketika saya naik taxi saya akan memilih taxi yang bersih,aman,dan tidak berbau. Bila hal-hal ini dapat dipenuhi maka saya akan merasa puas dengan pelayanan yang diberikan.

EXPECTED
Expected adalah tingkatan kedua dalam hierarki kepuasan customer. Expected bermakna hal-hal yang kita harapkan ada tetapi jika tidak ada tidak mengurangi kepuasan kita. Contohnya : Ketika saya naik taxi saya berharap pengemudi taxi saya tahu jalan, saya berharap argonya berjalan dengan benar. Hal-hal tersebut adalah hal yang saya harapkan terjadi jika saya naik taxi. Hal-hal tersebut akan menambah nilai kepuasan saya dari sekadar Basic jika terpenuhi.

DESIRE
Desire adalah tingkatan selanjutnya dalam hierarki kepuasan customer. Desire adalah hal-hal yang hanya ada dalam angan-angan kita ketika kita mendapatkan service. Contohnya : Ketika saya naik taxi alangkah enaknya jika ada tv nya, alangkah enaknya jika ruangan untuk kaki saya luas, alangkah enaknya jika sang pengemudi mau memutarkan radio kesukaan saya. Hal-hal tersebut tidak saya harapkan terjadi dan hanya ada dalam angan-angan ketika saya menaiki taxi. Saya tidak akan kecewa jika hal tersebut tidak ada tetapi akan sangat senang jika ada.

UNEXPECTED
Unexpected adalah tingkatan tertinggi dalam hierarki kepuasan customer. Unexpected adalah hal-hal yang bahkan tidak kita bayangkan akan terjadi tapi terjadi. Contohnya begini : Ketika saya naik taxi, di tengah-tengah kemacetan di ambang waktu berbuka puasa,tiba-tiba sang supir taxi menawari saya dengan gratis sebuah aqua gelas dan beberapa potong kurma. Anehnya hal ini bukanlah suruhan dari perusahaan tempat supir tersebut bekerja melainkan kesadaraan dia sendiri. Lebih mencengangkan ketika saya tahu bahwa sang supir non-muslim dan dia mempersiapkan itu sebagai inisiatif sendiri. Hal seperti inilah yang akan membekas buat saya. Apa yang dilakukan sang supir mencerminkan klo dia sudah mendapatkan mindset yang baik akan service.

Hal-hal seperti inilah yang harus kita tanamkan kepada diri kita ataupun customer service untuk membuat customer kita bukan hanya loyal tetapi juga mampu menjadi advokasi kita di luar sana. Tentunya contoh yang saya sebutkan diatas masih harus disesuaikan lagi dengan bisnis anda dan juga relevansinya dengan keadaan sekarang. Selain itu usahakan rubah perspektif anda menjadi perspektif konsumen. 

sumber

Minggu, 20 Mei 2012

Kita, Pendidikan, Skripshit, Dan Pengabdian

Saya harap menyiapkan secangkir kopi hangat yang nikmat atau teh hangat dan juga cemilan sembari menikmati artikel ini ^^



Tugas akhir (TA) atau lebih dikenal dengan istilah skripsi, thesis atau desertasi atau apapun itu, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari jenjang pendidikan S1 hingga S3. Tapi mau dikemanakan tugas akhir itu?

Iseng-iseng saya menelusuri tiap-tiap perpustakaan yang ada di beberapa jurusan universitas yang ada di sumatera utara Medan sebagai sampel penelitian kecil-kecilan ini. Maka pemandangan pertama yang saya jumpai adalah anak-anak mahasiswa yang sibuk mencari literatur untuk kebutuhan bahan tugas akhirnya dan tumpukan tugas akhir yang sudah dijilid yang dibiarkan menggunung dan tertutupi oleh debu (jika sering dijadikan bahan literatur, maka tugas akhir itu tetap kelihatan bersih). Terlepas oleh stigma plagiat, 

Selidik punya selidik, dari tahun ketahun ada ribuan lulusan yang diwisuda oleh Universitas Sumatera Utara (USU) seperti yang diberitakan di sini.

Wow, ribuan kepala yang diwisuda dari berbagai jenjang program seperti dari diploma, sarjana, pasca sarjana dan doktoral. untuk 1 universitas sebesar USU. Maka ada ribuan TA yang juga akan "digudangkan" juga dong, walaupun hanya sebagian sangat kecil pengabdian dari TA tersebut yang berguna bagi orang lain.

Bagaimana dengan jumlah pengeluaran untuk biaya pendidikan perkepala hanya untuk menggudangkan TA Anda ? Variasi antara 10 hingga ratusan juta rupiah tergantung jenjang pendidikan yang di ambil dan status perguruan tinggi apakah negeri atau milik swasta. Yang pastinya jumlah yang dibutuhkan hanya untuk sekolah di perguruan tinggi saat ini hingga mencapai diatas 10 jutaan Rupiah hingga diwisuda.

Belum lagi dengan dinamika dari satu kepala yang sedang kuliah juga membuat kepala yang lain juga ikutan kena getahnya seperti orang tua kita yang makin pusing memikirkan pinjaman uang karena tingginya biaya kuliah, dosen yang makin killer karena sudah lama kehilangan esensi pendidikan di kamus pendidikan di kepalanya, dan segenap pihak stakeholder yang makin merunyamkan sistem pendidikan karena motifnya sudah material UUD (ujung-ujungnya duit) diatas kepentingan mencerdaskan anak bangsa. Maka katastropi pendidikan di Indonesia terlihat jelas di perguruan tinggi di Medan hanya dengan kenyataan di depan mata bahwa ada tumpukan TA yang berdebu yang makin menggunung yang tinggal dibakar saja karena sudah tidak cukup untuk disimpan di gudang penyimpanan TA. Seperti inikah nasib akhir TA lulusan perguruan tinggi?

Tidak sedikit pengorbanan para mahasiswa semester capek ini menguras tenaga, waktu, pemikiran dan uang yang pinjam sana sini untuk  menyelesaikan penelitian TA mereka. Belum lagi mereka ini berhadapan dengan karakteristik dosen-dosen pembimbing yang punya warnanya masing-masing dan administrasi yang makin centang prenang dengan adanya uang pelicin layaknya birokrasi di jajaran pelayanan publik.



Semakin banyak karya para lulusan seharusnya makin membuat Indonesia makin maju kesejahteraannya karena atas tebakan logika sederhana akan menunjukkan adanya korelasi tersebut. Tapi kenyataan berkata lain, malah tidak menunjukkan korelasi itu tapi menimbulkan masalah baru yang bernama : PENGANGGURAN TERDIDIK ! Kasihan !

Idealnya, Tugas Akhir adalah bentuk representatif para terdidik ini untuk terjun ke masyarakat untuk mengabdi agar Indonesia makin sejahtera. USU saja memiliki tri darma pendidikan untuk menunjukkan visi mereka bahwa para lulusannya adalah terbaik bagi masyarakat awam sekitarnya. Sialnya, peran perguruan tinggi hanya sebatas meluluskan mahasiswanya dengan setumpuk tugas akhir kuliah. Setelah lulusan diwisuda, berfoto ria bersama teman-teman, orang tua dan sanak keluarga, mengadakan sukuran atau pesta maka habislah sudah tugas besar perguruan tinggi. Bagaimana dengan kelanjutan hidup para lulusan ini ? "Emang gue pikirin? Cari sendirilah ! " Kira-kira begitulah lepas tangannya perguruan tinggi dibalik brand nama  besar perguruan tinggi tersebut.  Brand nama perguruan tinggi hanya sebagai pemanis di sertifikat lulus kuliah saja. Tidak lebih dari yang diekspektasikan. Begitu juga dengan TA yang dibiarkan menumpuk yang makin dimakan usia, debu, bahkan rayap. Miris !

Bagaimana solusinya ? Saya meng-googling sistem pendidikan Finlandia dari beberapa blogger dan artikel sebagai bentuk contoh pendidikan terbaik di semua tatanan pendidikannya mulai dari sejak SD hingga perguruan tinggi (klik di sini dan di sini) . Kita perlu belajar tentang esensi Tugas Akhir kuliah untuk membentuk watak sebagai pembelajar bahwa saya, Anda, beserta para lulusan yang lain sedang dihadapkan oleh problematika kemasyarakatan. Cukuplah pernyataan ini sebagai renungan: " Apakah karya penelitian tugas akhir ini akan berguna bagi masyarakat sebagai bentuk pengabdian? Atau akan berakhir begitu saja terdiam dan dibiarkan berdebu bahkan akan digudangkan ? "

Jangan sampai keluar stigma ekstrim bahwa ketimbang menghabiskan uang melanjutkan pendidikan yang tidak jelas di negeri ini dan TA nya dibiarkan teronggok tak berguna, lebih baik investasikan uangnya ke emas dan buka usaha kecil-kecilan. Masalah keilmuan, khan ada oom Google yang serba tahu. hehehehehehehe



Ngobrol dengan saya yuk :)

Sabtu, 19 Mei 2012

Inspiring Man - Eko Pratomo Suyatno-

Eko Pratomo Suyatno (Kanan)

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya– karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.

“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.
”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis

” Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH SWT ”.

Dear my friends, that’s a true story from someone who taugh me about the important of investment three years ago. I wish i could be someone like him…to give all attention to family..i believe family is our precious thing..more than money or gold.
Ditulis oleh adriannugraha


Selasa, 15 Mei 2012

Gunakan Google Insight ! (Bagian 4-tamat)

Trend adalah pengungkit untuk meningkatkan penjualan produk. Bagaimana untuk melihat trend produk ditiap wilayah yang berbeda? Google Insight mencoba membuka tabir tersebut.

Berikut cuplikan videonya :

Gunakan Google Insight ! (bagian 3)

Tiap wilayah pemasaran produk memiliki karakternya masing-masing. Hal yang teramat dilarang jika satu strategi pemasaran pada suatu wilayah disamakan dengan wilayah yang lain.

Berikut cuplikan videonya :


Gunakan Google Insight ! (bagian 2)

"Kenali lawanmu untuk memenangkan perang"

Produk Anda memiliki pesaing ? Gunakan Google Insight untuk mengevaluasi kinerja brand produk Anda.

Yuk lihat cuplikan video berikut :