Jumat, 11 Mei 2012

Pribadi (Luar) Biasa



Selamat pagi pembaca blog saya :)

Masih sibuk dengan pekerjaan dan bisnis di hari sabtu ini ? Khan lebih asik bersantai dengan orang-orang yang disayangi ? atau malah asyik molor si tempat tidur ? :)

Nah, pernahkah Anda menemukan sesuatu yang unik dari orang-orang yang pernah Anda jumpai ? Saya yakin 100% Anda pasti menjawab "PERNAH" kecuali Anda hanya duduk berdiam di rumah.

Nah, keunikan dari orang-orang yang pernah Anda jumpai sesungguhnya adalah objek yang patut Anda ambil pelajaran akan suatu nilai kehidupan dari situ. Apakah nilai keunikan orang tersebut ? Yup, kalau saya menyebutnya personal brand.

Terus, untuk apa menjadi personal yang unik ? Jika ada orang yang menganggap dirinya unik, sesungguhnya keunikan yang ia miliki adalah aset berharga pribadi yang orang lain tak mungkin bisa meniru keunikannya . Contoh sederhananya adalah dengan menulis kreatif di blog pribadi seperti Anda yang saat ini sedang membaca hasil tulisan saya, hehehehehe :)

Banyak cara menjadi pribadi yang unik. Silakan Anda eksplorasi berbagai media seperti koran, jejaring sosial , dan googling yang meliput orang-orang yang memiliki keunikan personal brand tersendiri. Belajarlah dari situ, ambillah hal positifnya yang membuat Anda (termasuk saya) belajar memiliki brand tersendiri. Seperti kutipan yang pernah saya dengar dari sang master Golden Ways, pak Mario Teguh, " Jadilah pribadi yang pantas..." Maka jika boleh saya sambung, "Jadilah pribadi yang pantas dengan keunikan-keunikan yang luar biasa, membuat orang-orang yang Anda cintai begitu membutuhkan sejuta kebaikan yang unik nan luar biasa dari pribadi Anda."

Yup, karena hidup tak sekedar hidup, maka akan sayang jika dilewati hanya dengan pribadi yang biasa-biasa saja.

Siap menjadi pribadi (luar) biasa untuk menuju Indonesia yang lebih baik ?

Salam weekend :)


Sabtu, 05 Mei 2012

Yes! We Care

http://www.uaex.edu/images/depts/fcs/best_care/graphics/The_Best_Care.jpg

Dulu, pelayan hanya sekedar mengikuti apa yang dimau oleh pelanggan. Jika pelanggan mengatakan A, maka pelayan mengikuti apa yang di mau oleh pelanggan tanpa adanya nilai plus tersendiri yang menjadi ikon brand pelayanan di benak konsumen.

Sekarang, bentuk pelayanan yang primitif semacam itu sudah mulai ditinggalkan. New Wave marketing mengisyaratkan bahwa terjadi hijrah dari sekedar memberikan SERVICE yang memadai menjadi CARE terhadap pelanggan di era digital saat ini.

Melayani adalah kewajiban..
Tetapi kepedulian, pengertian, memahami dan melayani sepenuh hati adalah mutlak..

Sayonara SERVICE...
Selamat datang era CARE...

 


Jumat, 04 Mei 2012

Inside Google Plus One (Google +1)

Dunia digital saat ini sudah semakin dipermudah berkat adanya search engine paling canggih saat ini. Yup... google.com. Salah satu fitur menarik namun sering dianggap sepele bagi kebanyakan user (terutama di Indonesia) adalah fitur google +1 .

Apakah fitur google +1 ? Secara garis besar, fitur ini mirip dengan like yang ada di facebook. Fungsi dan Manfaat Google Plus One ini biasanya digunakan disebuah Post/Artikel di internet, umumnya ditemukan di Akun Blog Website dan di Google Plus, bila anda klik Google Plus One ini berarti anda menyukai status/post orang tersebut otomatis anda membantu untuk merekomendasikan blog/post tersebut kepada teman-teman sosialnya (teman dalam lingkaran) atau di google profil nya, ini contoh pada google profil.

Google system sendiri menyebutkan bahwa Google Plus merupakan :
"+1 is the digital shorthand for 'this is pretty cool.' To recommend something, all you have to do is click +1 on a webpage or ad you find useful. These +1's will then start appearing in Google's search results"
Maksudnya kurang lebih :
Dengan +1 ini berarti anda telah merekomendasikan web tersebut ke yang lain, dan akan ditampilakn di pencarian google.
Nah, berarti Fungsi Google Plus One (+1) ini diantaranya adalah (Opini Pribadi):

Klik +1 berarti menyukai web seseorang, memberikan rekomendasi web/artikel tersebut ke pada orang lain dalam satu jaringan, merekomendasikan/membantu Web/Artikel tersebut tampil ke Search Engine, contohnya Google.

Silakan lihat video berikut ini: (Courtesy Youtube)



Dengan adanya fitur google +1, google mencoba untuk meng-indeks konten pada hasil pencarian  bukan lagi berdasarkan banyaknya atau key word/kata-kata yang ada pada artikel/ konten, tapi berdasarkan manfaat konten (inbound) tersebut sehingga pembaca ataupun pengunjung suatu web dengan sukarela untuk merekomendasikan isi artikel tersebut ke mesin pencarian google sehingga akan lebih mudah terindeks (bahkan dapat muncul pada halaman pertama hasil pencarian google). 

 Dari segi bisnis, fitur +1 membantu mempositioning-kan brand di internet sehingga mempermudah brand tersebut menjadi viral marketing. Tentu ada tantangan tersendiri untuk mengajak pengunjung suatu situs bisnis untuk meng-klik +1.   

 Nah, dengan adanya fitur ini akan lebih baik jika Anda memiliki akun GMAIL sebagai langkah pertama untuk merekomendasikan konten terbaik ke seluruh pengguna internet di seluruh dunia yang menggunakan fasilitas search engine google.com. Yuk sambil baca konten, sekalian di klik +1 -nya ya :)

Yup, sepertinya google sudah hijrah dari key word oriented, menjadi content oriented.  


Ngobrol dengan saya yuk di sini ^^


Sepenggal Kisah Inspirasi - Belenggu Cinta Suamiku-

Hidup ini sering membuat kita lupa terhadap jasa-jasa orang yang begitu mencintai kita dengan setulus hati hingga ajal menjemputnya dan membuat kita terbelenggu oleh kerinduan yang begitu mendalam.


Semoga sepenggal peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :)

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak kan pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.


Ngobrol dengan saya yuk di sini ^^

Ketika Orang Tua Kita Makin Menua

Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.

Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Di saat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku. Di saat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu

Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.

Di saat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankan mu

Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku. Di masa kecilmu, Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Di saat saya membutuhkanmu untuk memandikanku

Janganlah menyalahkanku. Ingatkah di masa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?

Di saat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern

Janganlah mentertawaiku. Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap "mengapa" yang engkau ajukan di saat itu

Di saat kedua kakiku terlalu lemah untu berjalan,

Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku. Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan

Di saat daku melupakan topik pembicaraan kita,

Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Di saat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.

Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu di saat engkau mulai belajar tentang kehidupan...

"DULU daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku. Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu. Daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur. Di dalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu" 



Sumber : anonim


Ngobrol dengan saya yuk di sini ^^


Kamis, 03 Mei 2012

8 Cara Etis Meningkatkan Penjualan Melalui Twitter


Sebuah pepatah dari para leluhur terdahulu yang mengajarkan kearifan yaitu “ Mulutmu Harimaumu “ masih melekat begitu erat di era teknologi informasi sekarang ini.
Begitu dasyatnya promosi tradisional “dari mulut ke mulut” itu berdampak pada penjualan sebuah produk sudah cukup menjelaskan kenapa cara promosi tersebut masih ada hingga sekarang. sebut saja  Twitter, begitu banyak kebahagiaan yang berasal dari sebuah perkataan dan ada juga tragedi yang disebabkan komentar yang sederhana.
Inilah yang menjadi salah satu kekuatan Twitter dalam perannya sebagai etalase gossip di dunia maya. Pernahkah anda berpikir untuk berinvestasi melalui gossip?
Ada sedikit tips untuk Anda untuk meledakan penjualan Anda dengan memanfaatkan Twitter sebagai media sosialisasi produk Anda.

  1. Daftarkan nama akun dengan nama Anda pribadi sebagai username kemudian berilah nama twitter dengan produk penawaran Anda (nama ini bisa diganti di kemudian hari).
  2. Buatlah Photo Profile yang ada hubungannya dengan produk Anda.
  3. Buatlah penyusunan kata yang efektif dengan singkatan kata yang sudah sering dipakai, karena postingan dibatasi 140 karakter.
  4. Buatlah postingan yang bersambung apabila konten dari postingan lebih dari 140 karakter. Hal ini dapat membuat follower anda tetap menunggu postingan anda selanjutnya, selama konten yang anda kirimkan bermanfaat untuk mereka.
  5. Untuk menambah jumlah Follower, coba kunjungi beberapa akun orang populer yang kira-kira followernya merupakan segment produk Anda, kemudian follow masing masing dari follower tersebut, tunggu beberapa hari, kemungkinan orang tersebut akan melakukan followback Anda.
  6. Kekuatan Twitter dalam penyampaian pesan akan lebih besar lagi saat dikombinasi dengan Blog yang ada kaitannya dengan produk Anda. Misal Produk Anda Toko Online Pakaian Anak, maka buatlah blog dengan thema Parenting dengan mengarah segment orangtua. Buatlah beberapa tips yang bersambung dan dihubungkan dengan Blog Anda. Jangan lupa gunakan shortener untuk mempersingkat nama web.
  7. Sesering mungkin melakukan interaksi dua arah dengan follower Anda sehingga mereka merasa diperhatikan. Hal ini untuk memupuk kesetiaan follower Anda bahkan mereka dengan sukarela mereferensikan kepada para follower mereka.
  8. Sesekali melakukan Retweet konten twitter yang dianggap bagus dan inspiratif dari beberapa publik figur, sehingga dapat menggambarkan kualitas akun twitter Anda.
Jangan mengobral Lapak dagangan Anda terus menerus, cobalah berikan sesuatu yang menarik dan bermanfaat agar Follower atau teman anda tidak merasa bosan.
Untuk membangun pencitraan Produk Anda, jangan melakukan posting atau status pada FB maupun Twitter yang berisikan keluh kesah yang berlebihan, menghujat, beropini negatif terhadap kondisi saat ini (sosial politik), opini SARA, bergunjing yang tidak ada manfaatnya. Semua hal negatif ini akan meruntuhkan pencitraan Produk maupun Personal Anda.

Selamat Mencoba. Happy Business ^^
 

Ngobrol dengan saya yuk di sini ^^

Selasa, 01 Mei 2012

6 Etika Untuk Meningkatkan Penjualan Melalui Facebook




Hampir semua orang yang sdh memanfaatkan internet pasti mempunyai akun yang satu ini. Itu sebabnya situs ini sampai sekarang masih menjadi primadona untuk menjadi media jejaring sosial. Untuk memulai kegiatan promosi atau kampanye merk Anda di facebook cobalah beberapa tip berikut.
  1. Buatlah akun dengan susunan nama Anda kemudian diikuti nama Bisnis. Ini dimaksudkan agar teman anda mengetahui bahwa Bisnis ini adalah milik Anda dan kalaupun ada orang yang belum mengetahui nama dan bisnis yang Anda kelola, orang tersebut percaya bahwa nama pemilik tercantum disana.
  2. Masukan foto profil Bisnis dengan tampilan foto anda kecil disekitar foto profil tersebut. Atau buatkan album di akun tsb yang merupakan foto-foto dan aktifitas terutama yg berhubungan dengan Bisnis anda, misal foto-foto Anda dengan karyawan Anda.
  3. Buatlah informasi yang jelas dan masih tersedia sampai saat ini, misal : nama website, alamat email dan nomor telepon yang masih berlaku. Ini sangat penting untuk memberi kesan baik terhadap keseriusan Anda dalam mengelola bisnis.
  4. Jangan pernah melakukan Tag foto tanpa diminta, hal ini akan membuat rasa tidak nyaman teman Anda, bahkan pencitraan Bisnis akan semakin buruk, karena terkesan terlalu mengobral produk.
  5. Konten akan menjadi faktor utama ketertarikan calon konsumen anda. Jadi buatlah konten yang bermanfaat berupa tips, pengalaman dengan sebuah produk, tutorial, berita dan hal2 lainnya yang berhubungan bisnis anda. Jangan terlalu banyak membuat posting produk, karena hal ini akan membuat jenuh.
  6. Sesekali ungkapkan rasa terima kasih terhadap pelangggan-pelanggan Anda yang loyal saat setelah bertransaksi.
Happy business :)




Ngobrol dengan saya yuk di sini :)